MATATELINGA, Jakarta: Dibandingkan hari Jumat (23/4) minggu lalu, rupiah mengalami penguatan sebanyak 0,55% dari Rp 14.525 per dolar AS. Fikri menambahkan bahwa dari awal minggu ada apresiasi terhadap rupiah, dikarenakan ketakutan pada Covid-19 yang menurun, setidaknya di Indonesia.
"Di sisi lain ada R&I yang mempertahankan peringkat surat utang Indonesia di level yang sama," kata Fikri.
Selain itu, FIkri juga menilai bahwa dengan adanya proyeksi dari International Monetary Fund (IMF) yang mengatakan bahwa rasio utang dan produk domestik bruto (PDB) Indonesia terendah di dunia, mendorong rupiah terapresiasi.
Selain itu, untuk kurs tengah Bank Indonesia atau Jisdor di hari Jumat mengalami penguatan sebanyak 0,10% menjadi Rp 14.453 per dolar AS. Sedangkan dibandingkan Jumat (23/4) lalu, mengalami penguatan sebanyak 0,65% dari Rp 14.548 per dolar AS.
Baca Juga:Kunker Sandiaga Uno soal pariwisata di SabangRupiah di perdagangan Jumat (30/4/2021) menguat tipis 0,03% menjadi Rp 14.445 per dolar AS dari Rp 14.450 per dolar AS. Rupiah sempat mengalami pelemahan walaupun pada akhirnya menguat kembali di penutupan perdagangan.
Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan bahwa sempat melemahnya rupiah terjadi karena data Amerika Serikat (AS) yang dirilis pada hari tersebut, di mana pertumbuhan 6,4% terjadi.
Rupiah di perdagangan Jumat (30/4) menguat tipis 0,03% menjadi Rp 14.445 per dolar AS dari Rp 14.450 per dolar AS. Rupiah sempat mengalami pelemahan walaupun pada akhirnya menguat kembali di penutupan perdagangan.
Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan bahwa sempat melemahnya rupiah terjadi karena data Amerika Serikat (AS) yang dirilis pada hari tersebut, di mana pertumbuhan 6,4% terjadi.