Matatelinga - New Yor, Departemen Perdagangan merevisi pertumbuhan ekonomi AS menjadi 2,9 persen pada kuartal I. Angka itu merupakan yang terburuk dalam lima tahun belakangan. Sementara pesanan barang tahan lama AS juga dilaporkan merosot untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, turun 1 persen pada bulan lalu. Greenback telah tergelincir ke level terendah dalam lebih dari dua minggu terhadap euro, karena laporan menunjukkan pesanan barang tahan lama Mei tiba-tiba jatuh dan perekonomian mengalami kontraksi lebih besar dari yang diperkirakan pada kuartal I. Dolar Amerika Serikat (AS) anjlok ke level terendah sebulan terhadap beberapa mata uang utama, pasca-rilis data pertumbuhan ekonomi dan barang tahan lama di AS. Kedua data yang melemah tersebut, mengisyaratkan kemungkinan perpanjangan kebijakan akomodatif Federal Reserve. Sementara Rupiah merosot ke level terendah sejak Februari, karena Bank Indonesia (BI) mengatakan akan melepas Rupiah untuk membantu meningkatkan ekspor. "Kami melihat cukup banyak penjualan dolar AS di seluruh papan perdagangan. Nampaknya dolar AS bisa melemah lebih dalam, tetapi pasar cepat mencerna data, melihat jauh ke belakang, dan mengharapkan tidak ada perubahan kebijakan apapun dari Fed karena data ini," tutur analis valas di USForex Inc, Ken Wills, seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (26/6/2014).The Bloomberg Dollar Spot Index, yang melacak greenback terhadap 10 mata uang utama, mencapai level terendah sejak 19 Mei dan turun 0,2 persen menjadi 1,008.29. Dolar AS jatuh 0,1 persen menjadi 101,87 per yen Jepang, turun 1,3 persen kuartal ini. Euro naik 0,2 persen menjadi USD1,3629, setelah jatuh 1 persen sejak 31 Maret untuk kuartalan I. Sementara euro terhadap yen Jepang diperdagangkan di 138,83 per yen Jepang. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan performa terbaik dari 16 mata uang utama kuartal ini. Mata uang ini naik 4,3 persen sementara dolar Kanada dan real Brasil menguat 3,1 persen dan 3 persen.(Okz/Mt)