Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Horeee, Kabarnya Hari Ini Berpotensi Menguat

Horeee, Kabarnya Hari Ini Berpotensi Menguat

Admin - Senin, 30 Agustus 2021 06:15 WIB
Hand Over
MATATELINGA, Jakarta- Pernyataan Powell ini berbanding terbalik dengan komentar sejumlah pejabat The Fed sebelum Jackson Hole digelar. Beberapa pejabat The Fed bahkan menyebut, bank sentral AS akan mengurangi pembelian obligasi senilai US$ 120 miliar per bulan mulai tahun ini.

Pidato Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang cenderung dovish pada simposium Jackson Hole berpotensi mendukung pergerakan rupiah di awal pekan. Terlebih, usai pernyataan Powell, indeks dolar Amerika Serikat (AS) melemah.

Seperti diketahui, dalam pidatonya di akhir pekan lalu, Powell tidak menjelaskan dengan gamblang rencana tapering yang akan dilakukan The Fed. Berlindung dibalik lonjakan kasus Covid-19 varian Delta di AS, Powell juga menegaskan bahwa inflasi saat ini hanya berlangsung sementara dan bank sentral tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.

Baca Juga:Kapolres Siantar Bersama Forkopinda Salutkan BST PadaMasyarakatSenior Economist Sucor Sekuritas Fikri C. Permana mengatakan, dengan arah pengurangan pembelian aset yang lebih lama, indeks dolar memang cenderung menurun atau bergerak stagnan.

Walau begitu, Fikri melihat dengan ada atau tidaknya tapering, rupiah tetap akan mengalami tekanan di sisa tahun ini. Akan tetapi, ia berpandangan kalau tekanan tidak akan sebesar pada tahun 2013-2015 saat taper tantrum terjadi.

"Karena dari kekuatan rupiah sendiri, neraca dagang sudah positif sekarang, current account deficit juga lebih rendah, dalam artian devisanya lebih kuat, saya pikir ini menjadi salah satu pembantu bagi rupiahnya, kenapa rupiahnya bisa lebih kuat sekarang," sebutnya Fikri.

Akan tetapi Fikri melihat ada risiko yang dihadapi rupiah. Apabila rupiah terapresiasi terlalu dalam, dia menaksir Bank Indonesia (BI) akan memanfaatkan momen ini untuk sedikit melakukan depresiasi ke rupiah untuk berada di level Rp 14.500-Rp 14.600 per dolar AS sampai akhir tahun.

[br]

"Ini agar barang ekspor kita kompetitif, karena di saat yang sama konsumsi belum pulih ke level pra-pandemi, dan investasi juga seperti itu. Jadi mungkin ini salah satu bentuk dorongan Bank Indonesia juga untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar lagi kepada Media, Jumat kemarin (27/8).

Akan tetapi, dia melihat, saat ini masih ada risiko geopolitik Afganistan yang akan mempengaruhi dolar AS. “Pertama dari Taliban dan kedua dari kematian warga AS akibat bom bunuh diri yang terjadi di pekan lalu,” kata Fikri.

Baca Juga:Kabar Penangkapan Perampok Toko Emas di Pasar Simpang Limun HoaxSementara itu, Presiden Komisoner HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo menambahkan, dengan tidak banyaknya perubahan sampai akhir tahun, maka akan membuat The Fed meninjau kembali data pekerjaan bulan Agustus pada awal September nanti.

Sutopo memperkirakan, di akhir tahun rupiah masih akan bertahan di level Rp 14.500 per dolar AS. "Langkah tapering, tidak sama dengan kenaikan suku bunga karena akan mempertimbangkan data pekerjaan dan inflasi,"sebutnya.

Editor
:
Sumber
: ktn

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp30.000, Kini Dijual Rp2.673.000 per Gram

Ekonomi

Pagi Ini, Harga emas UBS-Galeri24 stabil, Antam turun di Pegadaian

Ekonomi

Harga Emas Kompak Naik Hari Ini, Tetapi Bisa Berubah Sewaktu waktu

Ekonomi

Kabarnya Harga Emas UBS dan Galeri24 Hari Ini Turun

Ekonomi

IKAN SAPU - SAPU DI DANAU TOBA: SAAT SOLUSI MENJADI MASALAH BARU

Ekonomi

Pagi Ini Harga Emas UBS, Antam dan Galeri20, Kompak Naik