MATATELINGA. Chicago - Kenaikan harga emas didukung penurunan dolar AS dan kekhawatiran inflasi yang terus-menerus setelah bank-bank sentral utama mengindikasikan suku bunga akan tetap rendah dalam waktu dekat. Harga emas naik ke level tertinggi pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi Wib).Emas sebagai lindung nilai Inflasi telah diuntungkan dari lingkungan suku bunga yang sangat rendah untuk memacu pertumbuhan selama pandemi, karena itu berarti pengurangan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.Namun, kekhawatiran bahwa bank-bank sentral akan mulai mengetatkan kebijakan untuk memerangi kenaikan harga-harga telah membuat investor tetap waspada terhadap data ekonomi.
Baca Juga:Buruh di Medan Minta UMP 2022 Naik 10 PersenAdapun harga logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 38,5 sen atau 1,59% menjadi USD24,542 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik USD24,2 atau 2,34% menjadi USD1.060 per ounce.Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak USD11,2 atau 0,62% menjadi USD1.828,00 per ounce atau tertinggi sejak 7 September dan memperpanjang kenaikan untuk hari ketiga beruntun.Daya tarik emas meningkat bagi mereka yang memegang mata uang lain setelah indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya melemah 0,3%.[br]"Bank-bank sentral utama secara keseluruhan masih akomodatif, dan semua uang tunai dalam sistem sebagian besar berpindah ke pasar emas dan perak sebagai lindung nilai inflasi, kata Analis Senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, seperti dikutip dari Okezone, Selasa (9/11/2021).Kecenderung sikap dovish dari bank-bank sentral pekan lalu semakin mendorong emas ke level tertinggi dua bulan. Emas melonjak 1,3% pada Jum'at (5/11/2021) setelah Federal Reserve AS dan bank sentral Inggris (BoE) menahan setiap kenaikan suku bunga.