MATATELINGA. New York - Minyak mentah Brent pun mengakhiri sesi hampir USD 80 per barel. Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi Wib).Tiga produsen minyak menyatakan force majeure bulan ini pada sebagian dari produksi minyak karena masalah pemeliharaan dan penutupan ladang minyak.Jajak pendapat awal Reuters menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS kemungkinan telah turun untuk minggu kelima berturut-turut, sementara persediaan bensin terlihat sebagian besar tidak berubah minggu lalu.
Baca Juga:Di Penghujung 2021 Kementan Siapkan Pelepasan Ekspor Besar-Besaran dari SumutInggris tidak akan menghadapi pembatasan baru Covid-19 sebelum akhir 2021, menteri kesehatan Inggris Sajid Javid mengatakan pada Senin (27/12/2021), ketika pemerintah menunggu lebih banyak bukti tentang apakah layanan kesehatan dapat mengatasi tingkat infeksi yang tinggi.Harga minyak menguat meski terjadi penyebaran cepat varian virus corona Omicron, didukung oleh gangguan pasokan dan ekspektasi bahwa persediaan AS turun minggu lalu.Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari ditutup naik 34 sen atau 0,4% menjadi USD78,94 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Februari menguat 41 sen atau 0,5% menjadi USD75,98 per barel. Kedua kontrak tersebut diperdagangkan pada level tertinggi dalam sebulan, dibantu oleh penguatan di ekuitas AS.[br]Presiden Ritterbusch and Associates LLC, Jim Ritterbusch mengatakan, "Pasar saham tampaknya siap untuk menyelesaikan tahun ini atau mendekati rekor tertinggi yang akan berdampak ke pasar minyak mendorong nilai minyak mentah lebih tinggi," kata nya, seperti dikutip dari Okezone, Rabu (29/12/2021)."Dukungan datang juga dari gangguan produksi agregat tinggi di Ekuador, Libya dan Nigeria dan ekspektasi penurunan besar lain dalam persediaan minyak mentah AS," kata Analis Minyak UBS Giovanni Staunovo.