MATATELINGA. New York - Harga minyak tertekan pembicaraan kesepakatan nuklir Iran yang memasuki tahap akhir. Hal ini dapat membuka lebih banyak pasokan minyak mentah. Harga minyak turun hingga 2% pada akhir perdagangan Kamis.Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ned Price, Amerika Serikat berada di tengah-tengah tahap paling akhir dari pembicaraan tidak langsung dengan Iran, yang bertujuan untuk menyelamatkan kesepakatan 2015 yang membatasi kegiatan nuklir Teheran.Dengan kesepakatan baru mungkin segera terjadi, Korea Selatan mengatakan pada Rabu (16/02/2022) bahwa pihaknya telah mengadakan pembicaraan tentang melanjutkan impor minyak mentah Iran dan mencairkan dana Iran. Korea Selatan sebelumnya adalah salah satu pembeli minyak terkemuka Teheran di Asia.
Baca Juga:Elektabilitas Airlangga dan Golkar Juarai Survei Citra Network NasionalNamun, ketegangan atas kemungkinan invasi Rusia ke Ukraina terus mendukung pasar minyak karena potensi gangguan pasokan energi. Rusia membantah berencana menyerang tetangganya.Selain itu, kerugian minyak dibatasi ketegangan antara eksportir energi utama Rusia dan Barat atas Ukraina.Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April merosot USD1,84 atau 1,9% menjadi USD92,97 per barel di London ICE Futures Exchange. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret kehilangan USD1,9 atau 2,0% menjadi USD91,76 per barel di New York Mercantile Exchange."(Pasar) Minyak terkunci dalam tarik ulur antara keringanan sanksi Iran dan ketegangan Rusia-Ukraina," kata Pialang PVM Oil,Stephen Brennock, seperti dikutip dari Okezone, Jum'at (18/02/2022).[br]Kedua harga acuan naik ke level tertinggi sejak September 2014 di awal pekan dan keduanya terus menghadapi kemunduran ekstrim dalam beberapa bulan mendatang, struktur pasar di mana kontrak segera lebih mahal daripada kontrak untuk tanggal selanjutnya, menunjukkan ketatnya pasokan.Direktur Eksekutif Energi Berjangka Mizuho, Robert Yawger mengatakan, kontrak berjangka untuk Brent dan WTI hingga Agustus berada dalam "super-backwardation". Di mana setiap bulan diperdagangkan setidaknya USD1 per barel di bawah bulan sebelumnya."Harganya sudah bisa berada di wilayah tiga digit jika bukan karena pembicaraan nuklir antara AS dan Iran," katanya.