MATATELINGA. Jakarta - Harga emas bangkit dari penurunan tajam sesi sebelumnya, karena tidak ada kemajuan dalam pembicaraan antara Rusia dan Ukraina. Harga emas menguat sedikit di atas level psikologis USD2.000 pada akhir perdagangan Kamis (Jum'at pagi).Dengan latar belakang melonjaknya harga minyak dan komoditas, investor sekarang menunggu pernyataan kebijakan Federal Reserve berikutnya pada 16 Maret.Memukul selera terhadap aset-aset berisiko, pembicaraan antara Rusia dan menteri luar negeri Ukraina tidak membuat kemajuan nyata menuju gencatan senjata.
Baca Juga:Peringatan HKG PKK Ke 50 Tingkat Propinsi Sumut ,Asahan Raih 5 PenghargaanLogam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei naik 44 sen atau 1,7%, menjadi ditutup pada USD26,256 per ounce. Platinum untuk pengiriman April turun USD12,4 atau 1,12% menjadi ditutup pada USD1.095,20 per ounce.Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak USD12,2 atau 0,61%, menjadi ditutup pada USD2.000,40 per ounce.Serbuan ke aset-aset safe-haven awal pekan ini telah mendorong emas mendekati level rekor yang dicapai pada Agustus 2020.Investor juga mencermati data inflasi Februari dari Amerika Serikat, yang sesuai dengan ekspektasi tetapi juga menunjukkan peningkatan tahun-ke-tahun terbesar sejak Januari 1982.[br]Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis (10/03/2022) bahwa indeks harga konsumen AS, barometer inflasi, meningkat sebesar 0,8% pada Februari, atau 7,9% tahun ke tahun, pertumbuhan tertinggi sejak Januari 1982."Angka inflasi tentu merupakan elemen bullish yang mendasari emas. Namun, geopolitik mengalahkan data ekonomi saat ini," kata Jim Wycoff, analis senior di Kitco Metals. Seperti dikutip dari Okezone, Jum'at, (11/03/2022)."Bullish (emas) menghabiskan banyak energi mendorong harga ke rekor tertinggi awal pekan ini. Sekarang, bahkan data inflasi bullish tidak memberikan banyak manfaat karena (harga) baru saja habis."