Matatelinga - Jakarta, Selama berkarier di Padang, Dwi sepenuhnya mendapatkan dukungan dari keluarga, bahkan saat terjadi demo dan protes dari warga Padang terhadap Dwi, keluarga memilih untuk bertahan di Padang. Saat terjadi konflik, Dwi sempat menawarkan anaknya sekolah di Surabaya, namun anaknya menolak.Menghabiskan hampir setengah usianya di Padang, seorang Dwi Soetjipto tak lantas melupakan kampung halamannya. Besar di Surabaya, bahkan dalam memilih pasangan, Dwi memilih wanita asli Surabaya yakni Handini. Dwi mengaku bahwa saat memulai kariernya di Padang saat itu dirinya baru lulus kuliah dan belum menikah."Berangkat awal belum, setelah tiga tahun di Padang juga belum, baru setelah itu menikah dengan orang Surabaya, mungkin karena saya tidak laku dengan orang Padang," ujarnya sambil tertawa belum lama ini pada media Online."Keluarga saat terjadi demo mereka berada di dalam komplek Semen Padang, saya sendiri di luar, saya sarankan mereka sementara ke Surabaya dan sekolah di sana. Ketika itu saya ajak mereka ngomong, saya meminta sementara mereka pindah, tapi mereka tidak mau pindah, mereka malah ngomong, ‘kenapa kita harus pindah, bapak saja yang punya masalah tidak pindah’," jelasnya.Ketika permasalahan terjadi di Semen Padang, Dwi tidak pernah membiarkan keluarganya menyerah."Mungkin karena saya tidak pernah membuka kesempatan menyerah itu masuk, saya tidak tahu sebenarnya saya tidak membuka kesempatakan mereka mengeluh, kalau mereka mau cerita negatif tentang orang-orang, saya minta mereka tidak usah membicarakan mereka," sambung Dwi."Saya Temani Mereka dengan Berpuasa"Menjadi seorang direktur utama dari BUMN semen dengan agenda yang padat, tentu membuat waktu untuk keluarga menjadi lebih sedikit. Namun menurutnya yang terpenting dalam sebuah keluarga adalah komunikasi. Dwi mengatakan bahwa tak jarang dirinya beserta anak-anak menghabiskan waktu dengan olah raga."Kadang-kadang kalau waktunya sempit kita memilih olah raga tenis. Karena waktu saya kebanyakan di luar, buat saya yang terpenting adalah komunikasi, jadi meskipun fisik saya tidak di rumah, tapi mereka tahu saya ada. Saat di rumah walaupun sebentar yang penting berkualitas, seperti saat anak-anak ujian, saya temani dengan puasa, mereka tahu itu tirakat, itu langkah men-support mereka," ungkapnya.Ketika naik jabatan menjadi Direktur, Dwi membicarakannya dengan keempat anaknya. Anak pertamanya, Aditiya Hadi Wicaksono mengambil kuliah di Monash University, Australia. Anak keduanya, Wahyu Agung Pramudito melanjutkan kuliah di University of Manchester Institute of Science and Technology (UMIST), Inggris, sekarang menjadi University of Manchester.Sementara anak ketiganya, Dananto Adi Nugroho kuliah di ITS dan lulus September mendatang. Selanjutnya, Muhammad Baskoro Aji, si bungsu yang duduk di kelas 2 SMP."Terbesar di Australia, yang kedua di Inggris sudah selesai S3, mereka di-hire sebagai research di Manchester University, yang ini hebat dari S1 dia langsung lompat ke S3, yang ketiga kuliah di ITS, september lulus. Yang terakhir SMP kelas dua, ini yang berani marahin bapaknya," jelasnya.Dwi mengaku hingga kini belum ada dari anaknya yang berkeinginan melanjutkan karier di industri semen seperti dirinya. Dwi juga memberikan kebebasan kepada keempat putranya untuk memilih karier."Hingga saat ini belum ada yang bicara mau seperti saya, yang pertama belum mau pulang, yang kedua dia enjoy jadi teacher, yang ketiga akan melanjutkan S2. Saya terserah meraka, yang penting mereka mencintai pekerjaan, apapun pekerjaanya saya akan support, kalau mereka suka apapun saya akan dukung," tutupnya.(Mt/Okz)