Matatelinga - Jakarta, Di bulan Juli, masih tingginya permintaan akan barang-barang non-konsumer tentunya akan membuat nilai impor masih cukup besar. Jika pun terjadi penurunan pada laju impor belum dapat diimbangi dengan penguatan signifikan pada laju ekspornya. Melonjaknya laju impor di bulan Juni seiring tingginya pembelian mesin dan peralatan mekanik dibandingkan bulan sebelumnya dan begitu pun dengan pengeluaran atas besi dan baja yang juga mengalami kenaikan membuat nilai persentase kenaikan impor melebihi kenaikan ekspor sehingga menghasilkan angka defisit neraca perdagangan. "Kami perkirakan laju nilai perdagangan masih berpotensi melanjutkan defisitnya dengan nilai sebesar USD380,10 juta hingga USD420 juta," jelas Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada dalam risetnya, Senin (1/9/2014). Menurut Reza, beberapa golongan barang yang berpotensi terjadi kenaikan impor antara lain, kendaraan bermotor dan bagiannya, besi dan baja, dan mesin-peralatan mekanik. Sementara dari sisi ekspor, meski migas berpeluang melanjutkan kenaikannya namun, pertumbuhannya juga berpotensi lebih rendah dari nilai impornya. "Untuk barang-barang non-migas yang berpotensi menopang ekspor antara lain kendaraan, perhiasan atau permata, dan mesin. (Mt/Okz)