MATATELINGA, Jakarta : Nilainya kerap sekali mengalami perubahan hampir pada setiap harinya dan pada akhir perdagangan Jum'at (Sabtu pagi Wib) harga minyak dunia turun USD2 per barel. Harga minyak mentah turun karena para pedagang khawatir kenaikan suku bunga AS di masa depan dapat membebani permintaan dan menjadi cemas tentang tanda-tanda meningkatnya pasokan minyak mentah dan bahan bakar.Data terbaru pasokan AS, dirilis pada Rabu (15/02/2023), menunjukkan persediaan minyak mentah dalam sepekan hingga 10 Februari naik 16,3 juta barel menjadi 471,4 juta barel, level tertinggi sejak Juni 2021."Karena penyimpanan minyak berada pada level tertinggi 19 bulan, kilang-kilang akan memperpanjang musim turnaround selama mungkin," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.
Baca Juga:Penurunan Stunting, Bupati Humbahas Berharap Bindes Sepenuh Hati Melayani Kesehatan WargaJumlah rig minyak dan gas, indikator awal produksi masa depan, turun satu menjadi 760 dalam seminggu hingga 17 Februari, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes Co, Jum'at (17/02/2023).Meskipun terjadi penurunan rig minggu ini, Baker Hughes mengatakan jumlah total masih naik 115, atau 18% dibandingkan tahun lalu.Minyak mentah berjangka Intermediate West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret merosot USD2,15 atau 2,7% menjadi USD76,34 per barel di New York Mercantile Exchange. Seperti dikutip dari Okezone, Sabtu (18/02/2023).Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April jatuh USD2,14 atau 2,5% menjadi USD83,00 per barel di London ICE Futures Exchange.[br]Untuk minggu ini, Brent tergelincir 3,9% dan WTi merosot 4,2%.Berbagai tanda pasokan yang cukup juga membebani pasar. Produsen minyak Rusia berharap untuk mempertahankan volume ekspor minyak mentah saat ini, meskipun pemerintah berencana untuk memangkas produksi minyak pada Maret, kata surat kabar Vedomosti pada Jum'at (17/02/2023), mengutip sumber yang mengetahui rencana perusahaan.