Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Setelah Bejuang Selama Lima Tahun, Sabun Daun Kelor Semakin Melesat dan Mendunia

Setelah Bejuang Selama Lima Tahun, Sabun Daun Kelor Semakin Melesat dan Mendunia

- Senin, 30 Juni 2025 22:23 WIB
Matatelinga/Istimewa
Dewi Antika Sari Manalu
Setelah berjuang selama 5 tahun, Dewi Antika Sari Manalu dengan produknya sabun daun kelor semakin melesat dan dikenal ke berbagai provinsi di Indonesia, Sumatera Utara, Jawa, Riau, Sulawesi, Kalimantan, Papua, NTB, NTT, Kepulauan Riau, Nias dan ke beberapa negara Australia, Dubai, Mekah, Turki, Penang (Malaysia).

Oleh : James P Pardede

"Untuk produksi sabun daun kelor didukung ketiga buah hati, karena gedung produksi masih nyatu sama rumah, kami baru mampu beli lahannya. Insya Allah tahun yang akan datang semoga bisa bangun rumah dan gedung produksi agar bisa merekrut karyawan produksi," kata Dewi Antika Sari Manalu.Untuk pemasaran produknya, Dewi Antika masih mengandalkan platform Facebook, IG, dan grup-grup marketplace secara online. Secara offline melalui para reseller yang saat ini sudah ada sekitar 15 orang reseller."Kemudian titip jual lewat apotik, di rumah BUMN Medan, dan di kantin MUI Sumut. Saya sengaja tidak menitipkan sabun daun kelor dengan jumlah stok yang banyak supaya perputarannya lancar dengan sistem cash, jadi dalam sebulan rutin produksi dengan perputaran barang baru terus," tegasnya.Saat ditanya titik awal bangkit untuk memulai usaha sabun daun kelor, Dewi Antika Sari Menalu menceritakan kisah dan keresahannya untuk mengubah nasibnya. Ia diperhadapkan pada masalah berat di tengah keterbatasan keuangan keluarganya.Dewi Antika harus membayar ganti rugi mobil yang ringsek dan sepeda motor pemberian seorang ustadz harus turun mesin. Masalah berat itu ia alami di tahun 2018 lalu, sepeda motor pemberian Ummi hampir tergadai demi biaya ganti rugi mobil orang.Gajinya sebagai guru honor juga belum keluar. Di tengah situasi dan kepanikan itu, Dewi Antika melakukan eksperimen pembuatan sabun dari daun kelor. Eksperimen pembuatan sabun dari daun kelor ia pelajari lewat Youtube.Berhasil melakukan eksperimen, dengan tekad yang bulat Dewi menamai usahanya dengan nama DW Nazhiif, pelan tapi pasti Dewi bisa mengumpulkan uang dari penjualan sabun daun kelor. Ia juga tetap bersemangat dan rela mencuci mobil orang sampai kulit kaki kena kutu air dan pecah-pecah."Kalau ingat perjuangan saya merintis usaha sabun daun kelor ini, saya sering menangis dan berdoa dalam hati kiranya Allah mengubah nasibku. Alhamdulillah setelah DW Nazhiif berkembang, bengkel suamiku pun ikut berkembang," kenangnya.Belajar dari menghadapi masalah berat, Dewi Antika Sari Manalu juga berjuang untuk melawan sakit kulit atau alergi yang tak kunjung sembuh, eksperimen manfaat daun kelor ia coba ke diri sendiri."Alhamdulillah, 2 tahun eksperimen dan uji coba ke diri sendiri, ternyata sakit kulit yang saya alami sembuh. Saya mendirikan DW Nazhiif juga sebenarnya karena saya ingin cari ayah kandung saya sendiri, tapi sampai sekarang belum juga bertemu," katanya.Namun berkah melangkah sambil membawa sabun kelor, Dewi banyak bertemu banyak ayah angkat hebat, ada Kepala Dinas, ada pejabat MUI, ada Anggota DPR, polisi, dan ayah angkat hebat lainnya.Semangat pantang menyerah membuat Dewi Antika Sari terus berjuang dan mencari informasi sebanyak-banyaknya, terutama terkait dengan pengurusan ijin, pengembangan usaha dan pendidikan bisnis untuk bisa lebih banyak mengenal pelaku usaha dan bisa saling bertukar informasi."Mulai mengenal jasa pengiriman barang seperti JNE adalah saat pesanan online mulai bermunculan. Dimana pengiriman produk sabun daun kelor ke pelanggan menggunakan jasa pengiriman JNE. Kemudian, atas tawaran teman Prastio Cahyadi, saya diajak bergabung ke Koperasi Syariah, setelah beberapa bulan bergabung ditawarin sekolah bisnis JNE. Alhamdulillah, setelah ikut pendidikan di sekolah bisnis JNE, saya semakin bersemangat untuk mengembangkan usaha sabun daun kelor ini," tandasnya.Berkat pendidikan dan sekolah bisnis JNE, produksi sabun daun kelor DW Nazhiif sudah masuk ke Plaza Pesona Nusantara JNE. Kesibukannya mengurus DW Nazhiif dan pemasaran sabun daun kelor, Dewi Antika memutuskan untuk mundur dari profesi guru honorer dan fokus membina reseler yang sudah ada di Langkat, Kerinci, Mandailing Natal dan Medan."Untuk bahan baku sabun daun kelor, ada yang saya tanam sendiri, ada juga pemasoknya dari tetangga dan warga setempat. Harapan saya ke depan, semoga semakin luas dan berkembang. Berkah orderan, pelanggan sabun kelor banyak, semoga bisa membuka lapangan kerja seluas-luasnya dan memberikan kesempatan kerja sebanyak-banyaknya," harapnya.Semangat Dewi Antika Sari Manalu untuk terus melesat, dan semakin dikenal ke seluruh dunia, ia memegang prinsip dan motivasi. "Manusia tidak pernah tahu dimana rizkinya, tapi rizki tahu siapa pemiliknya dengan selalu berusaha dan berdoa setiap harinya".Kepala Cabang JNE Medan Fikri Alhaq Fachryana dalam sebuah kesemptan mengatakan bahwa jika UMKM ingin bertahan di kondisi sulit, mereka harus siap merambah ke platform digital, dan kesulitan paling utama, yakni masalah memasarkan produk tersebut, dan dimana akan menjualnya.Fikri menekankan pentingnya para pelaku UMKM mengetahui siapa, apa produk atau jasa yang ditawarkan, bagaimana izinnya, siapa yang perlu tahu produk dan jasanya, bagaimana cara masyarakat tahu produk tersebut dan kemudian mengapa masyarakat harus peduli dengan produk atau jasa yang ditawarkan.“Pemasaran paling efektif memang dari mulut ke mulut. Akan tetapi saat ini dunia digital juga tak kalah penting. Kita butuh marketing tools supaya informasi tentang produk yang dijual bisa tepat sasaran dan jelas,” katanya.Setelah memiliki produk yang akan dijual, langkah selanjutnya menurut Fikri adalah membuat deskripsi singkat, padat, jelas, dan mudah diingat orang.“Juga jangan lupa, apa yang menjadi perbedaan produk yang UMKM jual dengan milik orang lain. Di era digital ini kita harus lebih spesifik, itu sebabnya dalam mendeskripsikan produk, harus memperhatikan teknik copywriting, kalau tidak akan kalah. Tidak kalah penting tampilan visual juga harus menarik. Pasalnya, ketika sudah masuk ke dunia online, yang ditawarkan pasti akan bersaing dengan produk orang lain. Jika tidak memiliki visual yang menarik, maka produk kita tidak akan dilirik," tegasnya.Dengan latarbelakang yang kompleks tersebut, kata Fikri JNE Medan terpanggil untuk lebih fokus memberikan bukti nyata dalam mendukung UMKM Sumatera Utara. Seperti filosofi yang diajarkan pendiri JNE 'Semangat untuk berbagi, semangat untuk memacu kreativitas dan prestasi. Pendiri JNE Almarhum H. Soeprapto dengan sikapnya membantu orang lain berhasil menjadi pemacu semangat bagi seluruh karyawan JNE dalam berbagi kebahagiaan 'Connecting Happines" dengan sesama, khususnya UMKM.Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Siti Azizah saat menjadi salah satu narasumber di Medan, menegaskan bahwa meningkatkan jumlah wirausaha di Indonesia tidak semata-mata didorong oleh target pembangunan nasional, tetapi karena memang menjadi kebutuhan bangsa.“Tujuan kita menambah jumlah wirausaha bukan hanya karena RPJMN. Tapi karena kondisi saat ini memang menuntut kita untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja,” ujar Siti Azizah.Menurutnya, pilihan kerja saat ini terbagi menjadi dua jalur utama: sektor pemerintahan dan sektor swasta. Namun, keduanya menghadapi keterbatasan, apalagi di tengah dinamika dan tantangan dunia usaha yang kian kompleks. Oleh karena itu, ia menilai bahwa menjadi wirausaha adalah langkah yang paling tepat.“Di Sumut sendiri, potensinya luar biasa. Ada 1,2 juta wirausahawan yang bisa didorong untuk tumbuh. Profesi wirausaha bukanlah hal biasa. Justru sangat mulia. Bahkan, Presiden RI Prabowo Subianto telah menempatkan penguatan kewirausahaan sebagai bagian dari Asta Cita, arah pembangunan nasional yang mencerminkan visi besar negara," katanya.Tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, terutama kaum perempuan adalah akses terhadap layanan keuangan, perizinan, dan teknologi digital masih belum merata.“Banyak wirausaha perempuan yang masih terkendala izin dari keluarga, akses ke perbankan juga masih rendah. Lembaga keuangan ke depan harus lebih mendukung womenpreneur agar mereka bisa berkembang,” tegasnya.Dukungan dari pihak swasta, seperti yang dilakukan JNE dalam memfasilitasi pelaku UMKM mendapatkan pendidikan bisnis menjadi salah satu terobosan dan membangkitkan semangat pelaku usaha untuk memiliki inspirasi dan semakin melesat dalam pengembangan usahanya.

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

UNPRI Medan Jadi Kampus Pertama Creative Workshop JNE Content Competition 2026

Ekonomi

Raih Hadiah Ratusan Juta Hingga Umrah & Holy Land Lewat JNE Content Competition 2026

Ekonomi

JNE Rayakan Ramadan 1447 H dengan Semangat “BERGEMA”

Ekonomi

Mohamad Feriadi Soeprapto Raih Penghargaan Indonesia Best CEO 2025

Ekonomi

JNE Rayakan Imlek 2026 dengan Semangat Bergerak Bersama

Ekonomi

JNE Berikan Bonus Puluhan Juta untuk Skuad Cosmo JNE FC yang Berprestasi membela Timnas di ajang Asia