MATATELINGA, JAKARTA -Biaya logistik Indonesia masih relatif tinggi, yakni 14,29 % dari PDB pada 2023, lebih tinggi dibanding negara setara yang berkisar 10–12 %. Akibatnya daya saing produk Indonesia tidak mencapai target.
"Salah satu faktor penyebabnya adalah belum adanya standar data logistik yang seragam sehingga terjadi duplikasi dokumen dan keterlambatan pertukaran informasi. Namun kondisi terkini bahwa National Logistics Ecosystem (NLE) pun belum optimal direalisasikan," kata Khairul Mahalli Ketua Umum DPP Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (ASDEKI) melalui keterangan tertulisnya, Selasa (2/9/2025).
Berdasarkan hasil kajian mengungkapkan bahwa meskipun layanan digital sudah berkembang, tapi pengembangan NLE masih terkendala interoperabilitas antar platform masih rendah.
Selain itu, format dokumen belum seragam, regulasi belum kuat, dan integrasi proses logistik dari hulu ke hilir belum optimal. Fokus kajian diarahkan pada sektor impor, khususnya delivery order, surat penyerahan petikemas, layanan trucking, pergudangan, kapal, hingga depo yang dinilai menjadi titik kritis dalam pertukaran data.
Baca Juga: Jelang Laga Piala Super Eropa 2025, Tottenham Memiliki Modal Bagus Khairul yang merupakan Ketum DPP Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), LKN Asta Cita Rempah Nusantara, Perhubungan & Logistik Forum Masyarakat Emas Indonesia menyoroti daya saing produk Indonesia yang rendah sangat dipengaruhi oleh inefisiensi di pelabuhan, dan akar masalahnya seringkali terletak pada kreativitas dan inovasi BUMN operator pelabuhan yang belum optimal.
Ia menyebutkan Pelindo sebagai pemain dominan melalui monopoli atau oligopoli, BUMN pelabuhan ini seringkali dinilai tidak merasakan tekanan untuk berinovasi. "Pelanggan pasti akan datang karena tidak ada pilihan lain." Kondisi ini mematikan insentif untuk kreatif.
Tidak hanya itu katanya, regulasi yang tumpang tindih antara pemerintah pusat, daerah, dan instansi seperti Bea Cukai, serta peraturan yang sudah ketinggalan zaman, membatasi ruang gerak BUMN untuk mencoba hal-hal baru.