Matatelinga - JAKARTA, Badan Pusat Statistik (BPS) biasa merilis angka inflasi dan angka pertumbuhan ekonomi setiap bulannya, namun kali ini BPS menghitung biaya produksi dan nilai di sektor pertanian, perkebunan hingga peternakan pada di 2014.Berdasarkan hitungan BPS di sektor pertanian yang terdiri dari padi, jagung dan kedelai, untuk biaya produksi kedelai per musim per hektar sekira Rp9,1 juta, sedangkan nilai produksinya yang dihasilkan hanya Rp9 juta."Ini jadi lebih tinggi biaya produksinya sampai 101,11 persen. Kenapa ini bisa terjadi nanti akan dibahas selanjutnya," kata Kepala BPS Suryamin saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (23/12/2014).Suryamin memaparkan, untuk struktur ongkos usaha tanaman kedelai memang banyak memakan biaya. Komponen paling besar adalah upah dan jasa pertanian yang mencapai 44,82 persen dari total biaya atau sekira Rp4,1 juta.Selain itu, biaya produksi yang relatif besar adalah pengeluaran untuk sewa lahan dan bibit atau benih, yakni masing-masing sebesar 35,64 persen atau Rp3,3 juta dan 6,87 persen atau Rp628 ribu.Sementara itu untuk tanaman padi sawah, BPS menghitung besaran nilai produksinya mencapai Rp17,2 juta, dengan biaya produksi mencapai Rp12,7 juta. Sehingga ratio biaya produksi dengan nilai produksi mencapai 73,64 persen."Sementara untuk padi ladang dengan nilai produksinya mencapai Rp10,2 juta, sedangkan biaya produksinya mencapai Rp7,8 juta dengan rasio 76,47 persen," jelasnya.Untuk tanaman jagung sendiri, nilai produksinya mencapai Rp12 juta, sementara untuk biaya produksinya mencapai Rp9,1 juta atau rasionya 76,63 persen.Kemudian yang kedua adalah produktivitas dari masing-masing komoditi harus ditingkatkan. Peningkatannya salah satunya dari teknologi seperti mencari bibit-bibit unggul. Selain itu, adalah dengan pemberian pupuk kepada para petani."Hal inilah yang sekarang menjadi. Program pemerintah agar kita bisa berswasembada," jelasnya.(Fit)