MATATELINGA, JAKARTA: Pasar saham di kawasan Asia bergerak serempak di zona merah, sementara harga minyak mentah melonjak tajam, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali meningkatkan ketidakpastian global. Sentimen risk-off mendominasi perdagangan, mendorong investor untuk meninjau ulang eksposur terhadap aset berisiko.
Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat serta Israel, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Situasi kian memanas menyusul laporan mengenai terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Gangguan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global dan memicu lonjakan harga minyak. Brent sempat menguat hingga sekitar 13% sebelum memangkas sebagian kenaikan, saat ini tercatat menguat sekitar 9% dibandingkan dengan penutupan hari Jumat 27 Februari 2026 – mencerminkan sensitivitas dan volatilitas tinggi di pasar energi.
Baca Juga: Rusia peringatkan AS Agar Tidak Melakukan "Intervensi Militer' Dalam Perang Iran-Israel Hingga saat ini, pelaku pasar masih memantau perkembangan di
Selat Hormuz, mengingat perannya yang krusial dalam distribusi minyak global.
Dampak Terhadap Pasar Domestik
Pasar saham Indonesia tidak terhindar dari tekanan sentimen global. Sejak pembukaan perdagangan, indeks bergerak melemah dan bertahan di zona negatif sepanjang sesi. IHSG akhirnya ditutup melemah -2,66% atau-218,65 poin di level 8.016,83 seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko eksternal.