JAKARTA (Matatelinga), Cadangan Devisa Rusia anjlok paling dalam selama enam tahun, kehilangan US15,7 miliar atau sekira Rp195,91 triliun (Rp12.478 per USD) minggu lalu. Hal ini dikarenakan pemerintah dan bank sentral berjanji langkah-langkah untuk mendukung bank-bank dan mempertahankan mata uangnya.Mengutip laman Bloomberg, Jakarta, Jumat (26/12/2014), nilai dalam stockpile yang meliputi cadangan bank sentral dan dua dana kekayaan tak terbatas, jatuh ke USD398,9 miliar dalam seminggu sejak 19 Desember. Bank of Rusia mengatakan penurunan tersebut mencapai 22 persen dari Januari.Para pembuat kebijakan, yang dipimpin oleh Gubernur bank sentral Elvira Nabiullina, berjuang untuk membendung kemerosotan terburuk rubel sejak default di tahun 1998. Dengan kemerosotan harga minyak dan sanksi atas konflik Ukraina mendorong Rusia menuju Resesi, membuat pemerintah menaikan suku bunga dan berusaha meredakan permintaan dolar.Langkah-langkah tersebut telah membantu membendung kekalahan mata uang Rusia, setelah rubel jatuh ke rekor terendah terhadap dolar pekan lalu."Seperti penurunan tajam jelas berita negatif untuk rubel sebagai dukungan tersebut tidak benar-benar berkelanjutan bahkan dalam jangka menengah," kepala ekonom untuk Rusia di Bank of America Corp di Moskow, Vladimir Osakovskiy.Rusia menjual sekitar USD4,8 miliar pada intervensi pasar dan memberikan USD9.8 miliar dengan janji dibeli kembali mata uang asing dalam seminggu sejak 19 Desember, menurut data bank sentral. Dalam tujuh hari sebelumnya, cadangan turun USD1,6 miliar.(Fit/Okc)