JAKARTA (Matatelinga), Perekonomian yang membaik dalam 10 tahun terakhir, membuat posisi Indonesia menjadi incaran para investor asing. Pemain ritel asing dari Eropa, Jepang, Tiongkok, beberapa kali melakukan penjajakan ke Indonesia, selain itu dari regional juga ada dari Vietnam, Thailand, Malaysia dan Singapura mereka sangat berminat untuk membuka bisnisnya di sini."Pasar di negara kita memang terbentang luas, apalagi wilayah Indonesia Timur. Kawasan tersebut sangat potensial dan daya beli masyarakat setempat tidak kalah dibandingkan masyarakat kota besar di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera, serta semakin terbuka lebar ketika pembenahan distribusi melalui program tol laut pemerintah berhasil dijalankan," kata Ketua Umum Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Pudjianto dalam keterangan tertulis, Jumat (27/12/2014).Namun, kata dia, secara nasional, penetrasi ritel modern di Tanah Air paling rendah dibandingkan negara tetangga. Menurut Fitch Ratings dengan tingkat penetrasi 14 persen Indonesia jauh tertinggal dibandingkan Filipina 25 persen atau Malaysia 53 persen."Sektor ritel modern memang tumbuh lebih cepat dibandingkan pedagang tradisional selama lima tahun terakhir. Tapi menurut Fitch Ratings kontribusi terhadap seluruh industri ritel hampir tidak beranjak, berada di kisaran 20 persen. Hal ini menyiratkan pasar ritel modern masih luas untuk berekspansi. Pasar Indonesia yang bakal menjadi sasaran empuk peritel dari luar itu, kalau tidak dilindungi, jaringan distribusinya akan dikuasai asing. Karena itu pemerintah selayaknya memberikan kebijakan yang pro pemain lokal dan selektif terhadap pemain asing yang akan masuk," paparnya.(Fit/Okc)