MATATELINGA,Tokyo: Dari 21 negara para menteri perdagangan, anggota Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) berkumpul di Suzhou, China, pada Jumat (22/5/2026) di tengah kekhawatiran atas meningkatnya unilateralisme dan proteksionisme agenda "America First" pemerintah AS.Dalam forum dua hari itu, para pejabat perdagangan APEC membahas upaya mendorong perdagangan bebas di kawasan Asia-Pasifik serta memperdalam kolaborasi transformasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI).China sebagai ketua APEC tahun ini berharap pertemuan itu dapat berkontribusi pada KTT para pemimpin APEC yang dijadwalkan berlangsung di Shenzhen, China, November mendatang.Kepala perunding perdagangan China Li Chenggang mengatakan dunia saat ini sedang mengalami "perubahan yang dipercepat" yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir."Unilateralisme meningkat pesat dan globalisasi ekonomi terkena dampak serius," kata Li dalam pidato pembukaannya."Semakin dahsyat badai yang terjadi, semakin kita harus berpegang pada upaya mencari titik temu," ujarnya, seraya menyerukan anggota APEC untuk mengatasi kesulitan dan memulihkan kepercayaan terhadap ekonomi global.Li juga menegaskan nilai APEC terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai ekonomi dengan kebutuhan yang beragam, meninggalkan pola pikir menang-kalah, dan bersama-sama mengeksplorasi kepentingan melalui pendekatan objektif, rasional, dan pragmatis.Ke-21 anggota ekonomi APEC mencakup Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, Rusia, negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, serta negara-negara Amerika Latin.Dari Jepang, Menteri Perdagangan Ryosei Akazawa dan Wakil Menteri Luar Negeri Senior Iwao Horii turut menghadiri pertemuan tersebut.Ketegangan China-Jepang masih tinggi terkait pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai kemungkinan konflik Taiwan pada November tahun lalu.Sebelum sidang dimulai, Akazawa mengatakan dirinya siap membahas berbagai isu dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao jika ada kesempatan.
Baca Juga: Usai KTT APEC Thailand, John Lee Positif Covid-19, Bagaimana dengan Presiden Joko Widodo?