JAKARTA - Matatelinga, Harga minyak kembali mengalami penurunan ditengah spekulasi serangan terbesar di kilang milik Amerika Serikat (AS) sejak tahun 1980 yang akan membatasi pengolahan minyak mentah.Dilansir dari Bloomberg, Senin (2/2/2015) minyak jenis Futures turun sebesar 3,3 persen di New York. Hal tersebut dipicu karena serikat pekerja di AS yang tergabung dalam The United Steelworkers di lebih dari 200 kilang melakukan aksi mogok kerja sebagai bentuk protes kontrak kerja yang deadlock."Jika aksi mogok ini terus meningkat, maka akan merugikan harga minyak," kata Analis Perminyakan, David Lennox.Serikat pekerja The United Steelworkers dalam pernyataannya mengatakan bahwa mereka tidak punya pilihan. "Kami menolak lima kontrak menawarkan dibuat oleh Royal Dutch Shell Plc atas nama perusahaan minyak Exxon Mobil Corp termasuk dan Chevron Corp sejak pembicaraan dimulai pada Jan," ungkapnya dalam pernyataan tersebut.Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret kehilangan sebanyak USD1,57 menjadi USD46,67 per barel di perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange. Volume minyak berjangka yang diperdagangkan di AS tersebut naik 69 persen di atas rata-rata 100 hari perdagangan.Sementara untuk minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret juga ikut turun sebesar USD1,58 atau 3 persen menjadi USD51,41 per barel di London. Disparitas untuk kedua harga minyak tersebut ditutup pada USD4,74 per barel. Dilansir laman okezone.com(Fit)