TOKYO - Matatelinga, Mata uang yen Jepang kemungkinan akan mengalami penurunan sekira 20 persen selama dua tahun terakhir akibat inflasi yang ditimbulkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi Jepang.Kepala analis wilayah Asia-Pasifik Goldman Sachs Asset Management, Philip Moffitt, memaparkan pelonggaran moneter yang agresif telah menyeret turun mata uang yen dan pendapatan perusahaan, yang didukung penyesuaian upah buruh yang menyesuaikan dengan penurunan inflasi bulan ke-18 yakni pada Desember."Untuk membuat tekanan naik terus pada inflasi tidak akan terjadi hanya semalam. Ini tidak akan membuat senang bank sentral dan pemerintah," kata Moffitt dalam seperti dilansir dari Bloomberg dan dikutip dari laman okezone.com, Selasa (10/2/2015).Selama jangka menengah dan jangka panjang, dia melihat transaksi berjalan Jepang akan mengalami defisit dan membuat yen Jepang melemah lebih lanjut. Menurutnya, yen Jepang telah menurun 27 persen terhadap dolar AS sejak akhir 2012.Moffitt mengatakan, dia tidak melihat krisis fiskal yang terjadi di Jepang dengan cara yang sama seperti di Eropa. Menurutnya, utang pemerintah Jepang yang mencapai lebih dari 1.000 triliun yen membuat Bank of Japan melakukan pembelian obligasi dan mendorong imbal hasil obligasi 10 tahun ke rekor terendah 0,195 persen."Perbedaan signifikan antara Jepang dan sebagian Eropa adalah bahwa Jepang adalah satu-satunya negara yang berutang dengan mata uang sendiri. Saya berpikir itu jauh lebih mungkin bahwa Anda memiliki depresiasi lebih lanjut dari yen karena pukulan besar dalam imbal hasil obligasi Jepang," tukasnya.(Fit)