JAKARTA - Matatelinga, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengingatkan pemerintah untuk tidak selalu membandingkan pelemahan nilai tukar Rupiah dengan mata uang negara lain. Pelemahan nilai tukar mata uang negara lain tidak bisa dijadikan pembanding untuk menganggap bahwa pelemahan Rupiah adalah suatu yang wajar dan masih aman.Menurut Enny, negara pembanding yang disebut pemerintah memiliki porsi ekspor hingga di atas 100 persen, sementara Indonesia masih berkisar 30 persen. Negara dengan orientasi ekspor akan diuntungkan dengan penguatan dolar Amerika (USD)."Kalau saja Rusia, China, India, Malaysia mengalami pelemahan nilai tukar itu wajar. Karena memang porsi ekspor di atas 100 persen terhadap pendapatan nasional. Sementara ekspor kita hanya 30 persen," ujarnya di Jakarta, Sabtu (14/3/2015).Enny meminta pemerintah tidak hanya pasrah melihat pelemahan nilai tukar Rupiah yang kini tembus level Rp 13.000 per USD. Jika terus dibiarkan, ini akan berdampak pada kondisi psikologis kegelisahan di masyarakat dan pelaku usaha."Jadi dengan berbagai macam statement pemerintah, kita menangkap secara psikologis, kalau masyarakat sudah banyak merasakan begitu gelisah, pengusaha menganggap ancaman, tapi pemerintah bilang ini masih wajar, jadi pemerintah tidak ada suatu effort. Ini yang dikoreksi terlebih dahulu," katanya.Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo tidak khawatir dengan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Saat ini Rupiah sudah menembus angka lebih dari Rp 13.000 per USD.Tidak hanya Rupiah yang keok dari dolar AS, mata uang negara lain juga mengalami hal serupa. Alasan itu dipegang teguh pemerintah dan Bank Indonesia. Perry justru mengalihkan perhatian dengan kondisi Rupiah yang menguat dibanding mata uang negara lain, selain dolar AS. Pelemahan Rupiah adalah yang terendah jika dibandingkan negara berkembang bahkan negara maju sekalipun."Kalau kita bandingan tingkat depresiasi (pelemahan) mata uang lain Rupiah itu hanya 0,34 persen terhadap USD. Sedangkan Euro melemah 3,13 persen, Yen itu 1,1 persen. Kita menguat terhadap mata uang lain," ucap Perry saat konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (10/3/2015) kemarin.Tidak hanya itu, Perry juga menyebut Rupiah semakin perkasa jika dibandingkan dengan mata uang Malaysia (Ringgit) yang melemah 1,14 persen terhadap USD. Dolar Singapura juga melemah 1,06 persen terhadap USD. Dilansir laman merdeka.com, Sabtu (14/3/2015)"Jadi tingkat pelemahan Rupiah lebih rendah. Rupiah ini menguat mata uang lain," katanya.(Fit)