JAKARTA - Matatelinga, Berdasarkan kondisi nilai tukar Rupiah yang terpuruk dan harga minyak mentah yang mulai kembali menguat, harga keekonomian BBM bersubsidi diprediksi bakal mengalami kenaikan."Jika mengacu pada variabel harga minyak dan nilai tukar rupiah harga BBM memang sudah perlu ada kenaikan lagi," kata pengamat energi dari ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro di Jakarta, Jumat (27/3/2015) seperti dilansir laman okezone.comDia memaparkan, berdasarkan hitungan ReforMiner, harga keekonomian premium sekarang ini berada di kisaran Rp8.200-Rp8.500 per liter. Perhitungan tersebut dengan mengacu harga pasar premium di pasar internasional (MOPS gasoline) sekitar USD70 per barel."Artinya, jika konsisten dengan upaya penghapusan subsidi, maka seharusnya harga premium sampai di atas Rp8.000 itu," ujarnya.Sesuai Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, lanjutnya, pemerintah seharusnya sudah mempunyai acuan bahwa harga premium tidak lagi disubsidi dan solar disubsidi tetap. Meski demikian, Komaidi juga mengatakan, sesuai konstitusi, kewenangan penetapan harga BBM berada di tangan pemerintah. Jika diputuskan belum perlu dinaikkan, maka berarti ada variabel penentu lain yang di akomodasi pemerintah."Kemungkinan pemerintah masih mengkaji aspek daya beli masyarakat dan risiko politiknya. Bagaimanapun kebijakan BBM di negeri ini kental dengan nuansa politis," ujarnya.Sesuai data situs www.globalpetrolprices.com, harga BBM di Indonesia sebenarnya masih rendah. Per 23 Maret 2015, situs tersebut menyajikan data harga premium di Malaysia sebesar Rp6.893 per liter. Harga tersebut hanya sedikit lebih rendah dibandingkan di Indonesia yang Rp6.900 per liter.Sementara, harga BBM di Vietnam, India, Thailand, Tiongkok, dan Jepang jauh di atas Indonesia. Bahkan, harga BBM di Singapura Rp19.423 dan Hong Kong tercatat Rp24.761 per liter.(Fit)