Matatelinga.com, ForumIndonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menilai, pidato yang disampaikanPresiden Joko Widodo (Jokowi) ketika acara peringatan Konferensi Asia Afrika(KAA) ke-60 di Jakarta Convention Center (JCC) sebagai pembohongan publik.
Dalampidatonya, Jokowi mengatakan terkait pemikiran permasalahan ekonomi dunia hanyadapat diselesaikan oleh lembaga-lembaga asing seperti World Bank, International Monetary Fund (IMF) danAsian Development Bank (ADB) adalah pemikiran yang sudah usang danharus dibuang.
"Iniyang menjadi catatan kritis kita. Presiden Jokowi kemarin berstatement bahwa harus keluar dariinvestasi asing. Tapi ini tidak senada dengan implementasi kebijakan yangada," tegas Sekretaris Jenderal FITRA Yenny Sucipto di Taman IsmailMarzuki (TIM), Jakarta, Jumat (24/4/2015).
Itulahmengapa dirinya menyebut pidato Presiden Jokowi ini memang sedikit membohongipublik, karena tidak sesuai dengan fakta d ilapangan. Yenny mengungkapkan,dalam APBN-P 2015 sudah ada penarikan utang sekira Rp42,9 triliun. Bahkan, jikadibandingkan posisi utang Indonesia pada bulan November 2014 dan Februari 2015,terjadi loncatan yang cukup signifikan yakni Rp1.000 triliun.
“Posisiutang kita per November 2014 itu Rp2.800 triliun. Tiba-tiba per Februari 2015naik Rp3.800 triliun. Ada Rp1.000 triliun dalam jangka waktu hampir 4-5 bulan.Kan tidak sesuai apa yang disampaikan kemarin di pidatonya," paparnya.
MenurutYenny, dalam struktur APBN-P 2015, terdapat beberapa kontribusi pemberi utangkepada Indonesia, di antaranya ADB, World Bank, JAICA, IMF dan pemerintahanAustralia.
"TermasukRp42,9 triliun itu lebih banyak ditarik utangnya dari World Bank dan ADB. Danmenarik, sekitar Rp80 triliun untuk dana cadangan utang. Jadi diberi fasilitaskan sejak tahun 2012 sampai 2015 kan belum ditarik. Batas penarikan 2015. Adadana cadangan itu jika ada permasalahan moneter. Makanya komposisi kita tinggi,penarikan diteruskan ke swasta. Ini kan tidak sesuai dengan nafas NawaCitanya," ungkapnya.
DiakuiYenny, penarikan utang Indonesia lebih besar dari World Bank dan ADB. Bahkan,jika dibandingkan pemerintahan SBY dengan pemerintahan Jokowi, saat ini utangIndonesia meningkat.
"Naik.Di APBN-P 2015 menjadi Rp42,9 triliun makanya kita teriak. Itu tambahan.Totalnya jadi hampir Rp100 triliun. Yang sebelumnya kalau di pemerintah SBYantara Rp56-Rp60 triliun. APBN 2015 dialokasikan Rp56 triliun ditambah Rp42,9triliun jadi hampir Rp100 triliun," ungkapnya.
Disisi lain, Presiden Jokowi dalam pidatonya menyebutkan dalam anggaran tahun2016 akan pro kepada rakyat atau sesuai Nawa Cita. Hal ini bisa diwujudkandengan tidak menarik utang lagi atau sesuai pidato yang disampaikannya dalamacara KAA ke-60.
"Kalaumau coba keluar dari itu, 2016 selayaknya tidak dilakukan penarikanutang," tukasnya. Demikian dikutip laman okezone.com, Jumat (24/4/2015)
(Fit)