Matatelinga.com,Sudah sejak lama PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) diisukansebagai sarang mafia migas pemburu rente. Namun, baru-baru ini pembubaranPetral dapat terealisasikan.
Pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun sudahberhembus wacana mengungkap misteri di Petral. Bahkan, Menteri BUMN DahlanIskan, sudah mewacanakan hal tersebut. Sayangnya, Dahlan tak melanjutkan wacananyaitu. Dia memilih mencari aman.
Selanjutnya, saat rezim berganti ke Joko Widodo, wacanamembubarkan Petral kembali menggelinding. Pada pertengahan November tahun lalu,di kompleks Istana Kepresidenan, Sudirman Said menggelar konferensi pers. Diamengumumkan, atas arahan Presiden Joko Widodo, dirinya akan menutup Petral.
Pemerintah sebelumnya membentuk Tim Reformasi Tata Kelola Minyakdan Gas Bumi yang diketuai oleh Faisal Basri. Tim ini yang melakukan reviewsecara menyeluruh terhadap Petral. Namun, enam bulan melakukan tugasnya, timini justru tidak merekomendasikan pembubaran Petral. Hanya kewenangannya untukmengadakan minyak mentah dan BBM dialihkan kepada Integrated Supply Chain(ISC).
Nyatanya, Pemerintah berpendapat sebaliknya. Bahkan, likuidasiPetral Grup tidak hanya berimbas pada Pertamina Energy Services Pte (PES), tapijuga anak usaha Petral yang lain, yakni Zambesi Investments Limited (ZIL) yangbermarkas di Hong Kong. ZIL adalah anak usaha Petral yang bergerak di bidanginvestasi dan pengembangan bisnis nonmigas.
Selain itu, Pertamina naga-naganya juga sudah pada satu tekat,membubarkan Petral sampai ke akar-akarnya. “Hebatnya, para direksi dankomisaris kompak,” ujar sumber di Pertamina.
Hanya saja, kompak bukan berarti bulat. Ada sedikit bedapendapat di antara petinggi perusahaan migas tersebut. Bahkan di antara merekaada yang mempertanyakan keabsahan pembubaran Petral yang menggunakan langkahpolitik. “Cara-cara demikian akan melanggar UU PT dan UU BUMN. Pembubaranharusnya dilakukan dalam RUPS Pertamina, kemudian RUPS Petral,” kata sumbertadi.
Ada juga yang mengingatkan agar Pertamina memperhitungkanefek-efek lanjutan yang bakal dihadapi jika membubarkan Petral. Soalnya,Pertamina mesti menyiapkan US$150 juta per hari untuk pengadaan bahan bakarminyak. Di sisi lain, tiga bank BUMN hanya sanggup menyediakan USD20 juta perhari.
Walhasil, Pertamina harus mencari kekurangan likuiditas dolarAS-nya melalui perbankan lainnya dengan bunga yang cukup tinggi. “Beda halnyajika melakukan trading melalui PES, Pertamina tidak harus menyediakan USD150juta per hari karena mereka punya fasilitas penggunaan LC dari bank-bank diSingapura,” katanya. “Jika ini dipaksakan, bisa membuat nilai tukar rupiahterdepresiasi,” tambahnya. Demikiandilansir okezone.com, Kamis (28/5/2015)
(Fit)