Matatelinga.com, BUMN Perum Bulog telah diberi lampu hijau untuk mengambil alih bisnis sapi impor indukan, bakalan hingga sapi siap potong, bahkan daging beku. Bulog dapat alokasi impor sapi 50.000 ekor.Alasannya, pemerintah kecewa dengan pihak swasta yang diberi izin impor sapi namun tak mampu membantu mengendalikan harga daging padahal sejak 2013 ada upaya pembebasan kuota impor.Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), realisasi impor sapi bakalan kuartal I-2015 (Januari-Maret) adalah 97.618 ekor dari target 100.000 ekor. Kuartal II-2015 (April-Juni) terealisasi 201.643 ekor dari target 267.624 ekor. Total hingga Juni 2015, impor sebanyak 298.861 ekor sapi bakalan sudah terealisasi. Sedangkan kuota triwulan III-2015 hanya 50.000 ekor."Tahun 2015 kita coba atur lagi kuotanya. Kuartal I kuotanya ngga terlalu banyak, lalu kuartal II naik karena ada kebutuhan ekstra di puasa dan hari raya. Harga terus naik sampai saat ini. Jelang lebaran Kemendag panggil feedloter minta harga bisa ditekan, feedloter jawabnya wah ngga bisa kita jual harga segitu (sesuai harga referensi)," terang Staf Ahli Mentan Bidang Investasi Pertanian, Syukur Irwantoro.Sikap ini dinilai membuat pemerintah kecewa. Di kuartal III kuota impor sapi bakalan dipangkas 80% hanya 50.000 ekor. "Kami batasi lagi, malah menahan stok. Saatnya pemerintah harus hadir. Instrumen pemerintah ya Bulog. Menko perekonomian sudah setuju," kata Syukur.Menurutnya, pemerintah belajar dari pengalaman di 2013 bahwa swasta diberi kewenangan menentukan kuota impor 100% pun membuat harga tinggi sampai saat ini. "Dulu kan diatur, dibatasi kuotanya. Ada pembatasan per kuartal berapa jumlahnya. Pengaturan dirasa tidak perlu lagi, lalu dilepaskan sebebas-bebasnya. Nyatanya, harga nggak turun juga," jelasnya. Demikian dilansir laman detik.com, Kamis (13/8/2015)(Fit)