Matatelinga.com, Hampir seluruh negara disebut tidak siap menghadapi kesengajaan pelemahan mata uang China, yuan. Hal tersebut tentunya akan berdampak negatif bagi perekonomian dunia yang saat ini juga tengah mengalami goncangan. Kepala Ekonom Samuel Asset Management, Lana Soelistianingsih mengatakan, pelemahan yuan diprediksi masih akan berlanjut. Pasalnya, mata uang China tersebut melemah belum memberikan dampak negatif bagi peningkatan ekspor seperti harapan pemerintah China."Penjualan di China melambat. Sekarang sulit dihargai. Itu terlihat di data BPS. Karena buat Indonesia kan Rupiah melemah 11 persen, sementara yuan 4,6 persen. Jadi buat Indonesia harga barang China itu masih mahal. Itu mengurangi permintaan atas barang konsumsi dari China," kata Lana di IBCM, Jakarta, Jumat (21/8/2015).Dia menambahkan, hampir seluruh negara terkena dampak pelemahan yuan. Sebab, melemahnya yuan akan membuat dolar Amerika Serikat (AS) semakin menguat yang mempengaruhi pelemahan di hampir seluruh mata uang."Saya kira siap atau enggak, enggak ada satu negara pun yang siap dengan pelemahan yuan ini, hampir semua negara menjadi korban, istilahnya dari China ini," jelas dia.Dengan demikian, Lana menyimpulkan, China diprediksi terus akan memperlemah yuan untuk membuat daya beli meningkat karena harga barang yang diproduksinya turun.(Fit)