Matatelinga.com, Devaluasi Yuan sangat berpengaruh terhadap perekonomian nasional. Khususnya ekspor dan impor yang menjadi tonggak ekonomi dalam negeri."Walaupun ekspor melemah cepat, tetapi surplus impornya kan sudah menurun. Dan ini terjadi pada masing-masing dunia," tutur Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih yang menjadi Plt Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri (Daglu) Karyanto mengatakan, Indonesia sebenarnya masih memiliki beberapa komoditas yang berpotensi untuk ekspor. Namun, industri dalam negeri yang masih mengandalkan bahan baku penolong impor cukup menjadi tantangan bagi pendorong volume ekspor."Ekspornya ada 10 komoditas yang utama potensial. Tetapi sebagian industri kita masih impor bahan baku," jelasnya.Sekedar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan pada Juni 2015 tercatat mengalami surplus sebesar USD 477 juta. Perolehan Juni tahun ini, lebih baik dibanding periode yang sama di tahun lalu yang mengalami defisit sebesar USD 305,1 juta.Kontribusi surplus dari neraca perdagangan tersebut, datang dari total ekspor yang tercatat sebesar USD13,44 miliar di Juni 2015 atau naik 5,91 persen (MoM). Namun, jika dibanding Juni tahun lalu mengalami penurunan sebanyak 12,78 persen mencapai USD 15,41 miliar.Sedangkan, total impor di Juni mencapai USD12,96 miliar atau naik 11,36 persen (MoM). Menurun sebanyak 17,42 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian dikutip laman okezone.com, Rabu (26/8/2015)(Fit)