Matatelinga.com, Perlambatan pertumbuhan ekonomi hingga nilai tukar mata uang Rupiah yang ambruk membuat perekonomian Indonesia memasuki fase krisis. Salah satu penyebab paling besar mengapa hal tersebut terjadi adalah kondisi tekanan dari gejolak ekonomi global.Namun, di tengah tekanan kondisi perekonomian global yang tengah melemah, Indonesia merupakan salah satu negara yang merasakan dampak yang paling besar. Menurut Pengamat Ekonomi A Prasetyantoko hal itu dikarenakan perekonomian Indonesia yang tidak memiliki daya saing."Ada pengaruh ke negara yang ringan dan ada yang berat. Nah kita ini termasuk yang paling berat. Karena daya saing kita rendah. Itu lah kenapa kita berdarah-darah menghadapi dinamika global," tutur pria yang akrab disapa Pras dalam sebuah dialog di Jakarta, Sabtu (19/9/2015).Menurutnya, dengan kondisi ekonomi global seperti saat ini memang siapa pun pemimpin Indonesia pasti akan sangat berat. Pasal belum ada perbaikan daya saing sudah sejak lama. Menurut dia, Indonesia seharusnya berbenah diri dalam hal daya saing sejak lama. Terlebih paing baik saat roda perekonomian sedang di atas. Seperti dikutip laman okezone.com"Ada tiga pengaruhnya, satu ancaman The Fed, itu punya implikasi yang luas. Kedua, adjusment penyesuaian perekonomian China dan ketiga recovery global yang terganggu," pungkasnya.(Fit)