Matatelinga.com, Bank sentral China (PBoC) memangkas suku bunga acuan untuk simpanan dan pinjaman masing-masing Masebesar 25 basis poin. Hal ini sebagai upaya lanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Dalam hal ini, suku bunga pinjaman menjadi 4,35 persen dan suku bunga simpanan 1,5 persen, efektif per 24 Oktober 2015. Apakah akan berdampak kepada perekonomian Indonesia? Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai, dengan penurunan suku bunga ini untuk mendorong ekonomi China lebih cepat ditengah perlambatan ekonomi global. "Tentu tergantung bagaimana perkembangan di China. Mungkin dia mau mendorong ekonominya lebih cepat, mungkin juga karena inflasinya lebih rendah," kata Darmin di kantornya, Jakarta, semalam. "Saya enggak tahu persisnya, jadi satu negara itu mengubah tingkat bunganya alasannya lebih kurang gitu," sambung Darmin. Sementara itu, untuk dampaknya sendiri ke Indonesia, kata Darmin melihat perkembangan ekonomi China setelah penurunan suku bunga acuannya. Darmin enggan berspekulasi akan mampu menurunkan suku bunga acuan (BI Rate). "Ya, memang inflasi kita rendah tahun ini. Kalo dilihat inflasi saja iya, tapi mungkin BI liat kursnya masih sudah stabil belum. Ya kalau sudah stabil mestinya arahnya turun (BI Rate)," ucap Darmin. Demikian dilansir laman okezone.com, Sabtu (24/10/2015) (Fit)