Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Utang Lagi ...Utang Lagi ......Kenapa Utang Lagi ......?

Utang Lagi ...Utang Lagi ......Kenapa Utang Lagi ......?

Admin - Selasa, 08 Desember 2015 06:40 WIB
google

Matatelinga.com,    Dari sejumlah pemberitaan Bisnis di Media menjadi berita terpopuler para pembaca. Apa saja? Mengawali pekan kedua Desember 2015, beberapa pemberitaan mengejutkan hadir dari pemerintah. Salah satu yang mencuri perhatian adalah mengenai rencana utang Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar Rp605 trilun.

1. Presiden Jokowi Utang Rp605 T Tahun Depan, Ini Rinciannya

Presiden Jokowi mencari utang hingga Rp605,3 triliun. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, utang tersebut dibutuhkan untuk pembiayaan pada 2016. Pembiayaan ini meliputi untuk kebutuhan defisit anggaran hingga Penyertaan Modal Negara (PMN).

"Saya fokus mengenai kebutuhan pembiayaan utang untuk 2016," tegas Bambang dalam acara Investor Gathering 2015 di Kementerian Keuangan, Jakarta.

Bambang menjelaskan, total kebutuhan pembiayaan pada 2016 sekira Rp605,3 triliun terdiri dari kebutuhan defisit Rp273,2 triliun, kebutuhan investasi PMN Rp58,1 triliun, pembayaran jatuh tempo Rp256 triliun yang meliputi jatuh tempo SBN Rp187,2 triliun dan jatuh tempo pinjaman Rp68,8 triliun, kemudian pengelolaan portofolio utang Rp3 triliun, SPN Cash Management Rp15 triliun.

Untuk memenuhi pembiayaan tersebut, pemerintah sudah menyiapkan beberapa mekanisme seperti, penerbitan SBN Rp532,4 triliun, penarikan pinjaman LN non-SLA Rp69,2 triliun dan penarikan pinjaman DN Rp3,7 triliun.

"Total kebutuhan pembiayaan Rp605,3 triliun. Ini kenapa kita masih butuh pembiayaan? Kalau dikaitkan defisit 2016, kondisi 2016 meski banyak lebih optimis dibanding 2015 tapi kita berada di kondisi global yang tidak pasti," kata Bambang.

"Paling tidak 2015, memang enggak bisa dibilang krisis keuangan global tapi yang pasti ini berat bagi perekonomian global," tukasnya.

 

2. Rupiah Akhir Tahun Malah Keok

 

Jelang akhir tahun 2015, nilai tukar Rupiah kembali keok terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tercatat, Rupiah terus menunjukkan pelemahannya yang menembus Rp13.800 per USD.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution meminta agar pelemahan Rupiah ini pada akhir tahun saja. Pelemahan Rupiah memang disebabkan bank sentral AS mau menaikkan suku bunga acuannya (fed fund rate).

"Jangan lihat akhir tahunnya. AS mau sesuaikan fed fund rate. Pasar kan tidak selalu penuh pertimbangan. Ada yang sangat menghindari risiko. Jadi ada yang berjaga-jaga," kata Darmin di Kementerian Keuangan, Jakarta.

Menurut Darmin, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tentu akan menjaga pasar agar pelemahan Rupiah tidak semakin mendalam. Hal ini sudah dibuktikan dengan paket kebijakan ekonomi serta deregulasi aturan.

"Itu sebenarnya kamu perhatikan bahwa saat Rupiah Rp14.800 per USD, kita deregulasi kan? Kemudian tentu moneternya," katanya dilansir Okezone.

 

(Mtc)


Tag:

Berita Terkait