Matatelinga.com, Nilai tukar Rupiah pagi ini dibuka kembali tertekan, setelah pada perdagangan kemarin sempat menguat. Rupiah melemah seiring dengan dipangkasnya laju pertumbuhan ekonomi global oleh International Monetery Fund (IMF). Seperti dikutip dari laman okezone.comAnalis MNC Securities, Victoria Venny, menjelaskan IMF memangkas laju ekonomi global setelah pertumbuhan ekonomi China tercatat paling lambat dalam 25 tahun terakhir. Dia melanjutkan, Rupiah memang sempat menguat kemarin, namun bukan karena fundamental ekonomi Indonesia yang membaik."Kemarin kan semua mata uang emergimg market meningkat. Jadi ada dua tipe investor, satu yang mengatakan pasar memang sudah price-in dengan ekonomi China di 6,9 persen. Tapi ada juga yang memandang ekonomi China kenapa tidak mampu tumbuh di 7 persen lebih," kata diaDia melanjutkan, setelah adanya pemangkasan proyeksi ekonomi, pasar mulai berhati-hati. Hal ini terlihat dari banyaknya asing yang mulai melakukan net sell. Selain itu, dia mengatakan sentimen dari suku bunga Indonesia cukup mempengaruhi. "Saat Fed Fund Rate naik, kita malah turunkan suku bunga," katanya.Meski demikian, dia menilai Rupiah masih akan stabil, seiring permintaan dolar AS yang belum tinggi. Menurutnya, kebutuhan dolar AS mulai mereda setelah akhir tahun kemarin banyak digunakan."Karena sudah pada bayar utang, nanti ada lagi untuk pembayaran obligasi pada kuartal I dan II. Jadi minggu ini tidak akan menembus Rp14.000 per USD," jelas dia.Melansir Bloomberg Dollar Index, dalam perdagangan non-delivery forward (NDF), Rupiah melemah 52 poin atau 0,3 persen menjadi Rp13.904 per USD. Rupiah bergerak dalam kisaran Rp13.804-Rp13.912 per USD.Sementara yahoofinance mencatat, Rupiah melemah 59 poin atau 0,4 persen menjadi Rp13.895 per USD. Adapun tingkat tertinggi Rupiah berada di Rp13.835 per USD, dan tingkat terendah Rupiah berada di Rp13.895 per USD.(Fit)