Matatelinga.com, Penurunan harga minyak dunia yang terjadi sejak akhir 2014 telah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selama satu tahun terakhir. Pasalnya, harga minyak mentah dunia terjun bebas di bawah asumsi APBNP 2015 sebesar USD60 per barel.Penurunan harga minyak sepanjang 2015 tampaknya tidak menjadi bahan pelajaran bagi pemerintah. Pada bulan Oktober lalu, pemerintah bahkan menetapkan asumsi harga minyak mentah dunia sebesar USD50 per barel. Keadaan ini tentunya akan semakin membebani APBN mengingat penurunan harga minyak yang telah menyentuh USD27 per barel. Seperti dilansir dari laman okezone.comAkibatnya, pemerintah berencana untuk kembali menambah utang sebesar Rp600 triliun. Pinjaman ini rencananya akan digunakan untuk menutupi defisit pada sektor energi."Tahun 2016 pemerintah melalui Kemenkeu akan menambah utang sebesar Rp600 triliun. Hal ini dilakukan karena penurunan pertumbuhan ekonomi dan harga minyak sehingga butuh untuk menutupi defisit," ujar Direkrut Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamudin Daeng di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (24/1/2016).Hal ini dibenarkan oleh anggota Komisi VII DPR RI, Ramson Siagian. Menurut Ramson, pinjaman ini rencananya akan ditujukan untuk menutupi defisit pada sektor minyak dan gas yang diakibatkan oleh penurunan harga minyak dunia."Saya ingin meluruskan. Jadi itu tidak hanya untuk minyak. Tetapi juga untuk minyak dan gas," jelasnya.Sebagai informasi, berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), utang Luar Negeri Indonesia hingga November 2015 telah mencapai Rp4.234 triliun. Jumlah utang ini secara year on year (yoy) mengalami peningkatan sebesar 3,2 persen dan pertumbuhan month to month mencapai 2,5 persen.(Fit)