Matatelinga.com, Kendati suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) the Fed baru naik pada akhir 2015, gejolak nilai tukar dunia sudah bergejolak sejak 2013. Bank Indonesia (BI) menyebut gejolak nilai tukar mata uang dunia dan pasar keuangan global terjadi karna adanya ketidakpastian the Fed dalam menaikkan suku bunga. Seperti dilansir dari laman okezone.comDeputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, perubahan kebijakan AS kali ini membuat goncang pasar keuangan global lantaran AS mematok suku bunganya terlalu rendah."Dari dulu juga ada (perubahan kebijakan moneter AS), tapi yang sangat membedakan adalah baru kali ini suku bunga AS serendah saat ini," paparnya di Graha Niaga, Jumat (29/1/2016).Pada krisis global 2008 silam, AS mengalami pukulan berat dan memaksa negara tersebut menurunkan tingkat suku bunganya dari 5,25 persen menjadi 0,25 persen. Setelah perlahan pulih, pada pertengahan 2013, the Fed memberikan sinyal akan menaikkan suku bunga.Namun, pasca-sinyal kenaikan diberikan the Fed, gejolak kurs dan gejolak pasar keuangan terjadi di seluruh dunia."Tapi juga terjadi di pasar keuangan global. Bagaimana kurs negara seperti Brazil kursnya melemah pada 2013-2014 sebesar 13 persen, 2015 melemah 33 persen. Indonesia kursnya turun pada 2013-2014 sebesar 21 persen, dan pada 2015 turun 10 persen," sebut dia.Tidak hanya negara berkembang, Mirza mengatakan, gejolak kurs juga terjadi di negara maju, seperti Kanada yang melemah 14 persen pada 2013 dan 16 persen pada 2015, New Zealand turun empat persen pada 2013 dan 12 persen pada 2015 dan Australia kursnya turun 21 persen pada 2013 dan 11 persen pada 2015.Anjloknya nilai tukar mata uang negara tersebut membuat dana yang keluar (capital outflow) dari negara berkembang sangat besar. "Karena jika suatu negara jaga inflasinya tidak disiplin, menjaga ULN tidak disiplin, maka outflow akan makin besar," cetus dia(Fit)