Matatelinga.com, Wacana penghapusan bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium di Jakarta dinilai terlalu dini untuk menekan kemacetan yang kian parah. Pemprov DKI Jakarta disarankan memperbaiki transportasi massal terlebih dahulu. Seperti dilansir melalui laman okezone.comDirektur Institut Studi Transportasi (Instrans) Dharmaningtyas mengatakan, masalah kemacetan itu tergantung bagaimana angkutan umumnya. Menurutnya, apabila angkutan umumnya sudah bagus, baru wacana penghapusan premium bisa dilakukan. ”Terlalu dini penghapusan Premium diusulkan Pemprov DKI Jakarta.Premium boleh dihapus, tapi kalau angkutan umumnya sudah bagus,” kata Dharmaningtyas saat dihubungi kemarin. Berdasarkan pengamatannya, angkutan umum di Jakarta saat ini masih jauh dari kata layak. Bila dinilai, transportasi umum di Jakarta mendapat nilai 6, belum mencapai 10. Tyas menjelaskan, fungsi negara adalah memfasilitasi mobilitas masyarakat.Artinya, selama belum bisa menyediakan angkutan umum yang layak, negara tidak bisa menghapus Premium. Apalagi, rencana Pemprov DKI Jakarta membereskan angkutan umum tahun ini belum tentu dengan lancar. Alasannya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berambisi mendatangkan bus sendiri untuk mematikan para operator existing.Kedua mengurangi polusi dan ketiga memaksa pemilik kendaraan pribadi beralih menggunakan transportasi massal. Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike menuturkan, untuk memindahkan pengendara pribadi ke angkutan massal, pola transportasi makro harus diwujudkan. Angkutan umum dibuat nyaman, cepat, dan murah.Ada integrasi antarmoda transportasi satu dengan yang lainnya, pembatasan operasional kendaraan, serta memperbanyak penambahan jalan. Politikus PDIP ini menilai, penghapusan premium bagian akhir dari finalisasi pola transportasi makro. Dia sendiri tidak yakin, dua tahun ke depan Pemprov DKI Jakarta mampu mewujudkan pola transportasi makro.(Fit)