Matatelinga.com, Nilai tukar Rupiah hingga saat ini masih bertahan di atas Rp13.000 per USD. Hal ini disebabkan oleh belum membaiknya sektor ekspor akibat penurunan harga komoditas global.Namun, selain faktor penurunan harga komoditas, terdapat satu faktor lainnya yang menyebabkan Rupiah tidak kunjung menyentuh Rp12.000, yaitu investor domestik. Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Doddy Zulverdi menjelaskan, investor domestik malah membuat market negatif. Seperti dilansir melalui laman okezone.com"Karena secara total asing masih positif atau net inflow. Sedangkan menurut data kita, investor lokal justru negatif atau net inflow," ujar dia dalam acara ANZ Market Insight di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Senin (15/2/2016) malam.Doddy melanjutkan, saat ini investor lokal telah kehilangan kepercayaan terhadap perekonomian dalam negeri. Sehingga, dana keluar dari investor lokal telah mendorong pelemahan nilai tukar Rupiah. "Yang membuat tekanan adalah investor domestik juga telah kehilangan kepercayaan terhadap ekonomi kita," jelasnya.Namun, nilai tukar Rupiah diperkirakan masih memiliki kemungkinan terapresiasi terhadap USD. Pasalnya, saat ini Rupiah dinilai mengalami undervalue akibat kebijakan pemerintah yang sengaja menjaga nilai tukar untuk mendorong ekspor."Rupiah masih undervalue. Tapi masih memiliki peluang untuk menguat. Tapi jangan cepat menguat juga untuk menjaga ekspor. Perkiraan saya kalau saat ini range antara Rp13.000 sampai Rp13.500," jelas ekonom UGM Toni Prasetiantono saat ditemui dalam acara yang sama.(Fit)