Matatelinga.com, Masuknya dana asing (hot money) yang signifikan dalam dua bulan terakhir mendorong kurs rupiah menguat cepat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, rupiah sempat menembus level Rp12.000-an per USD pada perdagangan kemarin.Kendati demikian, nilai tukar rupiah masih di bawah fundamentalnya atau undervalued sehingga berpotensi menguat lebih lanjut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah bersama dengan Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan rupiah agar sesuai dengan nilai fundamentalnya. Seperti dilansir dari laman okezone.comDia pun menyebut, penguatan rupiah saat ini menuju ke arah sana. ”Ada beberapa pandangan yang mengatakan (nilai fundamental rupiah) Rp12.700/dolar AS. Ada yang Rp12.500 per USD. Tapi, ada yang bilang kurang dari itu. Tapi intinya, kita sedang mendekati area fundamental kita,” kata Darmin di Jakarta kemarin. Darmin pun mengatakan, pemerintah menginginkan agar pergerakan rupiah tidak terlalu volatil.Idealnya, rupiah berada pada posisi yang sesuai dengan fundamentalnya atau netral. Dengan kata lain, kurs rupiah terhadap dolar AS perlu dijaga agar tidak terlalu kuat (overvalued ) atau pun terlalu lemah (undervalued ). ”Seharusnya dia (rupiah) bersifat netral karena yang dibutuhkan pengusaha adalah kestabilan,” ucap Darmin.Mantan Gubernur BI itu mengatakan, kurs yang tidak stabil akan mengganggu dunia usaha. Apabila menguat terlalu cepat, maka kinerja ekspor akan terganggu dan impor barang konsumsi akan masif sehingga memperburuk neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan. Sebaliknya, bila melemah terlalu cepat, maka impor menjadi mahal dan biaya produksi akan meningkat.Darmin mengungkapkan, rupiah masih mempunyai ruang untuk melanjutkan tren penguatan karena sentimen masuknyadanaasing, terutama menyasar imbal hasil (yield ) surat utang negara (SUN) masih terbuka lebar. Darmin pun menyebut, pemerintah dan BI perlu bekerja sama agar berbagai faktor ekonomi dan moneter yang berpengaruh terhadap yield SUN bisa dikelola sehingga yield bisa turun.Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, menguatnya kurs rupiah terhadap dolar AS karena arus dana asing yang masuk ke pasar obligasi dan pasar saham. Dia menyebut, sejak awal tahun hingga kemarin arus dana asing yang masuk pasar obligasi mencapai USD2,3 miliar, sementara yang masuk ke pasar saham mencapai USD171,4 juta.”Investor asing banyak yang menambah kepemilikan SUN karena imbal hasil yang ditawarkan masih atraktif,” kata dia kepada KORAN SINDO . Josua menuturkan, negaranegara maju saat ini menerapkan kebijakan moneter suku bunga rendah, bahkan negatif, sehingga investor global mengalirkan dananya ke negara berkembang yang menawarkan insentif bunga tinggi.”Penguatan rupiah saat ini memang masih didominasi oleh faktor global dan saya melihat tren penguatan rupiah berpotensi berlanjut,” sambungnya. Berbagai faktor global juga mendukung penguatan rupiah lebih lanjut, ditambah fundamental makroekonomi Indonesia yang membaik karena didukung koordinasi BI dari sisi moneter dan pemerintah dari sisi fiskal untuk mendorong investasi, baik di pasar keuangan maupun sektor riil Sementara,Direktur Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan menuturkan, masuknya investor global untuk membeli SUN membuat yield turun. Dia mengatakan, rata-rata yield pada akhir September tahun lalu mencapai 9,83 persen dan hingga kemarin hanya sekitar 7,97 persen.Cadangan Devisa USD104,5 M : Di bagian lain Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia akhir Februari 2016 sebesar USD104,5 miliar. Posisi ini lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Januari 2016 lalu sebesar USD102,1 miliar. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menjelaskan, peningkatan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaannya.Sumber penerimaan berasal dari penerimaan devisa migas dan penarikan pinjaman pemerintah, juga dari hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. ”Hasil lelang SSBI valas ini jauh melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaranutangluarnegeri pemerintah,” ujar Tirta dalam siaran pers kemarin.Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listianto mengatakan, kondisi cadangan devisa sangat dipengaruhi faktor eksternal. Kenaikan cadangan devisa dinilai wajar karena di bulan Februari terjadi penguatannilaitukarakibatmasuknya danaasing.”Sehingga, BI tidak perlu banyak boros melakukan intervensi di pasar uang untuk memperkuat kurs rupiah,” ujarnya.(Fit)