Matatelinga.com, Warga dan pelaku usaha kecil di Kabupaten Kudus mengeluhkan kelangkaan tabung elpiji ukuran 3 kilogram (kg) dalam sepekan terakhir. Kelangkaan bahan bakar itu berimbas lesunya produksi usaha kecil.“Dulu pernah langka dan harganya mahal, setelah ribut diberitakan di koran, jumlah elpiji gampang kita dapatkan. Sekarang menghilang lagi. Kalau menggunakan yang tabung besar, tentu mempengaruhi biaya produksi,” papar Maryono, salah satu perajin pisau di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo kemarin.Hal senada juga diungkapkan Arif Uliyanto, UKM yang memproduksi ceriping pisang asal desa Kaliwungu. Seperti dilansir dari laman okezone.com“Kita berharap nanti pas mau bulan Ramadan ketersediaan tabung elpiji 3 kilogram normal kembali. Karena kita pas banyak pesanan untuk menyambut Lebaran,” ucap Arif.Kepala Seksi Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan dan Pasar (Disdagsar) Kudus Sofyan Dhuhri mengungkapkan kelangkaan elpiji 3 kg terjadi karena hingga saat ini Kudus belum mendapat jatah untuk Mei. Hal ini berbeda dari biasanya, pada Februari biasanya usulan tersebut sudah keluar.“Dengan belum adanya jatah selama 2016 ini, kami tidak bisa membagi dan tidak tahu jatah tiap pangkalan bagaimana. Tapi mau bagaimana lagi, kami juga hanya menunggu,” kata Sofyan Duhri.Dia menjelaskan, selama 2016 ini sudah mengusulkan kepada provinsi dengan jumlah 10.112.940 tabung. Namun, pihaknya belum mengetahui berapa yang diberikan kepada Kudus. Jumlah usulan itu naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Pada tahun 2015, penggunaan gas bersubsidi menghabiskan jatah sekitar 6,7 juta tabung. Kenaikan usulan untuk 2016 ini, naik hingga 50 persen. Jumlah kebutuhan terus meningkat mengingat 2014 lalu hanya 6.124.000 tabung. Sofyan menyebutkan, berdasarkan data rata-rata kebutuhan elpiji 3 kg setiap bulan sebanyak 561.830 tabung.Sehingga selama satu tahun menghabiskan 6.741.960 tabung. Padahal, jumlah kepala keluarga (KK) per 1 Oktober 2015 tercatat 273.988.“Jika sebanyak 85 persen dari keseluruhan KK menggunakan elpiji 3 kg, maka asumsi dari pihak dinas setiap bulannya akan bisa menghabiskan 12 kilogram. Jumlah itu merupakan kebutuhan yang sangat banyak. Belum termasuk kebutuhan dari UKM-UKM,” ucapnya.Menghadapi bulan puasa, kata Sofyan, jatah elpiji 3 kg untuk Kudus sudah diusulkan ditambah 5 persen. Hal itu terkait dengan semakin bertambahnya kebutuhan masyarakat selama puasa hingga Lebaran mendatang.“Kebutuhan masyarakat sangat tinggi saat puasa dan Lebaran. Makanya ditambahkan elpiji untuk Kudus, untuk memenuhi kebutuhan itu,” tandasnya.Penambahan itu diambil dari bulan sebelumnya. Januari lalu Kudus menghabiskan 602.520 tabung elpiji, kemudian Februari sebanyak 579,360 tabung dan Maret 625.840 tabung.“Bulan April masih dalam pendataan. Untuk Mei hingga Juli, tiap bulan Kudus mendapatkan jatah elpiji sejumlah 660.000 tabung,” ujar Sofyan.(Fit)