Matatelinga.com, Rendahnya harga minyak belakangan ini menghantam industri minyak dan gas bumi (migas) dalam negeri. Harga minyak yang masih murah juga membuat penerimaan negara berkurang. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat, penerimaan negara dari sektor hulu migas pada semester I-2016 mencapai USD4,23 miliar. Kepala Humas SKK Migas, Taslim Z Yunus menuturkan, penerimaan terbilang rendah jika dibanding dengan rencana kerja dan anggaran (work plan & budget/WP&B) revisi 2016 yang sebesar USD7,07 miliar. "Penerimaan hulu migas sampai akhir semester I, penerimaan negara itu sekitar USD4,2 miliar," kata dia di Bandung, Rabu (20/7/2016). Menurutnya, salah satu menyebab rendahnya penerimaan negara adalah harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) yang sempat anjlok hingga USD27 per barel. "Ini yang men-driver utama karena harga ICP-nya," tambahnya. Dirinya berharap harga minyak terus mengalami peningkatan. Seperti dilansir dari laman okezone.comHarga minyak saat ini masih berkisar di level USD46 per barel. Diharapkan membaiknya harga minyak akan berdampak baik pada pemasukan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). "Jadi kita lihat dari awal Januari sampai Juni, kita bersyukur harga minyak naik. Sekarang sudah USD44 per barel sampai USD46 per barel. Dibandingkan Januari itu sempat USD27 per barel. Dengan harga USD27 per barel itu banyak blok yang tidak ekonomis untuk dikembangkan. Mudah-mudahan ke depan harga minyak lebih naik," cetusnya.(Fit)