Matatelinga.com, Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) menilai lonjakan harga kambing jelang Hari Raya Idul Adha memang sudah biasa. Kenaikan harga kambing terjadi karena banyaknya pedagang musiman yang membuka lapak-lapak baru. Ketua APDI Asnawi mengatakan, pedagang musiman merupakan para pedagang yang mengadukan nasibnya menjelang Hari Raya Idul Adha. Mereka itu membawa ataupun membeli ternak kambing, untuk diperjualbelikan di lapak-lapak baru yang dibuka khusus untuk Idul Adha. "Karena mereka bukan pedagang tetap mereka kan harus menyewa lapak baru. Dalam posisi itu, para pedagang juga membutuhkan biaya tambahan untuk mempekerjakan karyawan mencari pakan rumput. Itu saja sudah jadi biaya tambahan, yang membuat harga kambing kurban mahal," ujarnya. "Selain itu, karena mereka pedagang daerah yang berangkat dari Jawa Timur, Jogja, Semarang, ada juga dari Magelang, biaya transportasi dan akomodasinya tentu menjadi perhitungan mereka untuk menaikan harga kambing siap potong saat Idul Adha," sambungnya. Seperti dilansir dari laman okezone.comAsnawi menambahkan, masyarakat yang ingin berkurban tentu tidak mempermasalahkan perbedaan harga ini. Pasalnya, masyarakat yang berkurban bertujuan untuk ibadah Adapun harga kambing siap kurban di pedagang musiman, akan lebih mahal sekira Rp500-Rp700 ribu per ekor dari harga kambing standar. "Masyarakat berkurban kan tidak bicara masalah bobot hidup (berkaitan dengan harga), yang penting mereka beli kambing yang sesuai Syariah Islam untuk dipotong. Mau harga kambing Rp3 juta dengan bobot 30 kg, padahal harga standarnya Rp2,5 juta, masyarakat tidak mempermasalahkan itu. Jadi, memang bicara kurban itu pertama harus sesuai syarat dulu, bukan harga," tandasnya.(Fit)