Matatelinga.com, Presiden Joko Widodo memperkirakan Indonesia bisa mencapai swasembada sapi dalam waktu 10 tahun ke depan. Namun perkiraan tersebut dianggap tidak realistis. Menurut Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya, Sarman Simanjorang butuh waktu yang jauh lebih lama bagi Indonesia untuk mencapai swasembada sapi. Sebab kebutuhan Indonesia akan daging sapi terbilang besar, sementara pasokan sapi Indonesia masih belum mencukupi. "Konsumsi daging sapi per kapita itu 2,61 kg per tahun, kali 250 juta penduduk saja. Itu baru konsumsi kita, belum turis yang datang itu per tahun 12 juta, belum ekspatriat, lalu kedutaan," tuturnya dalam acara Roundtable Discussion Koran SINDO di Gedung Sindo, Jakarta, Selasa (9/8/2016). Sarman juga memandang, peternak tradisional Indonesia juga belum memiliki kemampuan untuk mencapai swasembada sapi. Pasalnya pemikiran peternak sapi Indonesia masih sangat tradisional yang hanya menganggap sapi sebagai aset. Dilansir dari laman okezone.com"Kalau ingin swasembada kalau hanya mengandalkan peternak tradisional tidak mungkin. Mereka hidup tidak dari situ. Mereka punya sapi dua-tiga ekor itu hanya tabungan. Kalau butuh duit dijual, padahal pasar tidak bisa seperti itu," imbuhnya. Berdasarkan hal itu, untuk mencapai swasembada sapi maka dibutuhkan peternakan sapi yang bersifat industri. Namun jika itu didorong juga diperkirakan butuh waktu hingga 25 tahun untuk mencapai swasembada. "Setidaknya butuh proses 20-25 tahun ke depan untuk swasembada. Makanya jangan mimpi dulu swasembada daging, yang gampang-gampang dulu, seperti beras dan gula. Itu kan beberpa bulan bisa dipanen, sapi tidak seperti itu," pungkasnya.(Fit)