Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Risiko Politik Lebih Bersifat Psikologis
Dari Seminar "Market Outlook 2018"

Risiko Politik Lebih Bersifat Psikologis

- Rabu, 24 Januari 2018 15:13 WIB
Istimewa
Seminar Market Outlook 2018 menghadirkan pembicara Direktur Panin Asset Management Rudyanto, Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Medan Muhammad Pintor Nasution dan pengusaha/investor pasar modal Muhammad Iqbal Harahap.

MATATELINGA, Medan : Seminar yang bertajuk "Merket Outlook 2018" yang digelar di Hotel Grand Aston City Hall Jalan Balai Kota Medan, Sabtu (20/01/2018) menghadirkan 3 pembicara dari latar belakang yang berbeda. Pembicara yang menyampaikan materi pada seminar tersebut adalah Direktur Panin Asset Management Rudyanto, Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Medan Muhammad Pintor Nasution dan pengusaha/investor pasar modal Muhammad Iqbal Harahap.

Seminar yang digagas Panin Sekuritas Medan inidihadiri ratusan orang dari berbagai kalangan termasuk mahasiswa, ibu rumah tangga dan pengusaha. Menurut Pimpinan Panin Sekuritas Medan Darmin, SE, MBA peserta yang hadir terlihat sangat antusias untuk mengetahui prospek investasi di 2018.

Pemateri kedua dalam seminar ini menghadirkan Direktur Panin Asset Management, Rudyanto. Dalam materinya, Rudyanto membahas beberapa hal terkait tahun politik yang melekat dengan tahun 2018 dan tahun 2019 yang juga agenda Pemilu dan Pilpres. Diawali dengan prediksi obligasi, dimana faktor pendukungnya adalah target inflasi 2018 yang lebih rendah dibandingkan 2017, kemungkinan suku bunga naik pada tahun 2018 relatif kecil, adanya kenaikan rating surat utang dan cadangan devisa yang menembus rekor baru.

"Faktor risikonya adalah kenaikan harga minyak bisa membuat target inflasi meleset, faktor kenaikan suku bunga the Fed dan faktor valuasi harga obligasi," paparnya,

Berbicara tentang inflasi, menurut Rudyanto pemerintah berhasil mencapai target inflasi pada tahun 2017 walaupun dilakukan penyesuaian terhadap subsidi tarif listrik di tahun 2017. Kenaikan harga minyak memang menjadi tantangan, namun ada kemungkinan pemerintah tetap berhasil mencapai target pada tahun ini. Meskipun demikian, sekalipun target tercapai, bisa dikatakan inflasi tahun 2017 dan 2018 tidak berbeda jauh sehingga potensi suku bunga menurun lebih kecil.

"Saat ini pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed sebanyak 3 kali pada tahun 2018. Skenario yang mungkin terjadi : Fed Fund Rate naik 3 kali, target inflasi tercapai = Suku Bunga BI tetap. Fed Fund Rate naik 2 kali, target inflasi tercapai = Suku Bunga BI turun 1 kali dan jika Fed Fund Rate Naik 4 kali, Target inflasi tercapai = Suku Bunga BI tetap atau naik 1 kali," kata Rudyanto.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah siklus krisis 10 tahunan akan berulang? Mengutip data dari Kata Data bahwa beda krisis 1998, 2008 dan 2015 adalah kurs rupiah terperosok di level Rp 14 ribu per dolar AS, terburuk sejak krisis 1998. Namun, yang terjadi saat ini baru sebatas krisis mini seperti pada 2005. Belum seburuk 2008 saat terjadi krisis likuiditas perbankan, apalagi segawat 1998 dss krisis ekonomi melanda Indonesia.

Mengacu pada data yang ada, lanjut Rudyanto potensi nilai Rupiah turun dalam seperti 1998, 2008 dan 2015 relatif kecil karena secara makro ekonomi, kinerja perbankan dan cadangan devisa, Indonesua jauh lebih baik. Pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan juga akan mulai memberikan hasil pada tahun-tahun mendatang.

Untuk prediksi saham, kata Rudyanto yang juga penulis beberapa buku tentang Reksa Dana ini menyampaikan bahwa faktor yang menjadi perhatian adalah kenaikan penjualan dan laba bersih secara keseluruhan menopang kenaikan IHSG meskipun terdapat beberapa saham yang overvalued. Dana asing kemungkinan akan net buy tahun 2018 mengingat telah mengalami net sell pada tahun 2017 meskipun polanya masih cukup fluktuatif (masuk dan keluar dengan cepat). 

Kemudian, ada kemungkinan terjadi perubahan pada pola investasi dan tahun politik memang akan berdampak secara psikologis, namun akan berdampak mulai semester II 2018, dimana pelaksanaan Pilkada Serentak akan berlangsung pada 27 Juni 2018 di 171 daerah di Indonesia. Kemudian tahun 2019 ada agenda Pemilu Legislatif dan Pilpres yang digelar serentak.

"Secara umum, risiko terbesar pada tahun 2018 terletak pada risiko politik namun lebih bersifat psikologis. Berdasarkan jadwal, seharusnya akan mulai terasa pada Semester II 2018. Harapan kita, Pilkada Serentak ini terhindar dari konflik dan berjalan dengan aman," tandasnya.

Dalam hal berinvestasi di 2018, Rudyanto menyampaikan bahwa ada banyak pilihan investasi saat ini yang telah memiliki ijin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hindari investasiyang menawarkan keuntungan besar tapi setelah dicek keberadaannya ternyata tidak terdaftar di OJK.

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Dukung Talenta Digital Muda, Pelindo Regional 1 Raih Penghargaan Langsung dari Wali Kota Medan

Ekonomi

Polsek Medan Labuhan Bersama Forkopimca Mediasi Perdamaian Dua OKP di Kelurahan Besar dan Tangkahan

Ekonomi

Formulir Dikembalikan, Maulana Syahputra Serukan Persaudaraan di Pemilihan Ketua PAC PP Medan Barat

Ekonomi

Atasi Banjir Mabar, Rico Waas Instruksikan Normalisasi Drainase Demi Kenyamanan Warga dan Siswa

Ekonomi

Polsek Medan Area Ungkap Curanmor Rental PS Langit

Ekonomi

Pembangunan Infrastruktur Kota Medan Terus Dikebut, Rico Waas Pastikan Menyasar Seluruh Kecamatan