Matatelinga - Jakarta, Positifnya saham-saham di Asia nampaknya belum mampu mendorong kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Defisit neraca perdagangan, setelah tiga bulan mencatat surplus, menjadi sentimen utama pergerakan Indeks.Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2014 kembali mengalami defisit USD430,6 juta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Januari sebesar USD14,48 miliar, turun 5,79 persen. Sedangkan impor pada Januari sebesar USD14,91 miliar turun 3,46 persen. IHSG dibuka turun 3,91 poin atau 0,08 persen menjadi 4.580,28. Indeks LQ45 turun 0,81 poin atau 0,1 persen menjadi 768,96, Jakarta Islamic Indeks (JII) melemah 1,12 poin atau 0,2 persen menjadi 617,86, dan indeks IDX30 turun 0,49 poin atau 0,1 persen.Sementara di Asia, indeks Nikkei menguat 43,20 poin atau 0,29 persen ke 14.695,43, indeks Hang Seng menguat 51,60 poin atau 0,23 persen ke 22.552,27, dan indeks Straits Times naik 0,20 persen ke 3.093,75.Membuka perdagangan, 22 saham menguat, 26 saham melemah, dan 41 saham bergerak stagnan. Pagi ini, telah terjadi transaksi sebesar Rp39,516 miliar dari 26,05 juta lembar saham diperdagangkan.Sektor-sektor penopang IHSG bergerak dua arah, dengan sektor perkebunan, industri dasar, konsumsi, infrastruktur, manufaktur, dan perdagangan melemah. Sedangkan sektor keuangan, tambang, aneka industri dan properti menguat.Adapun saham-saham yang bergerak di jajaran top gainers, antara lain saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) naik Rp110 ke Rp2.525, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik Rp75 ke Rp9.175, dan saham PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) naik Rp64 ke Rp389. Sedangkan saham-saham yang berada dalam jajaran top losers, antara lain saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp200 menjadi Rp47.150, saham PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) turun Rp150 menjadi Rp21.850, dan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun Rp125 menjadi Rp28.150.(KNIA/Okz)