MATATELINGA, Medan: Laju tekanan inflasi Sumatera Utara (Sumut) yang mencapai 5.21% selama tahun berjalan 2019 (Januari - Juli) telah sangat memukul daya beli masyarakat. "Bayangkan dengan inflasi sebesar itu, maka bisa diterjemahkan bahwa rata-rata masyarakat Sumut harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar 5% dari pengeluaran hariannya," jelas pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, Minggu (4/8/2019).[adx]Artinya, sambung Gunawan, inflasi selama tahun berjalan sebesar 5%, maka bila ada rumah tangga yang biasanya menghabiskan anggara sebesar Rp 1 juta per bulan untuk memenuhi biaya harian. Maka dengan inflasi sebesar itu pengeluaran masyarakat nambah Rp 50 ribu. Tambahan pengeluaran sebesar Rp 50 ribu ini jelas membebani pengeluaran masyarakat. Ditambah lagi, pemasukan masyarakat pada umumnya mengalami penurunan. Ini bisa tergambar dari tren harga sawit di tingkat masyarakat yang belakangan anjlok. Bayangkan harga CPO di bulan januari yang sempat menyentuh 2200 ringgit per ton, saat ini sawit dijual dikisaran 2.000 ringgit per tonnya."Bahkan di bulan maret maupun juli harga CPO dunia sempat terpuruk hingga ke level 1800-an ringgit per ton. Artinya jika sekitar 60% lebih ekonomi Sumut banyak ditopang dari sawit, maka penurunan harga sawit ini jelas menekan daya beli masyarakat kita. Karena apa?, harga anjlok, sudah pasti pemasukan masyarakat berkurang disitu," ungkap dia.[adx]Harga sawit memang sempat terpuruk setelah perang dagang antara Cina dan AS mencapai titik nadir di bulan November tahun kemarin. Saat itu harga CPO diperdagangkan di level 1.755 ringgit per ton, dan sawit di tingkat petani sempat dijual dikisaran 500 hingga 700 per Kg. Saat ini harga sawit juga masih tidak jauh beranjak dari harga tersebut di tingkat petani.Masih di kisaran 700-an per kg di tingkat petani. Padahal harga break even (harga balik modal)-nya itu dikisaran 1200-an. "Kesimpulannya adalah disaat harga sawit terpuruk ke 700 an per Kg, jelas pendapatan masyarakat SUMUT mengalami penurunan. Dan disaat itu pula, pengeluaran masyarakat Sumut bertambah sebesar 5% selama tahun berjalan diakibatkan inflasi," terang dia.Jelaskannya, kalau sawit harganya sangat dipengaruhi faktor global yang sulit untuk mengendalikannya. Sementara inflasi cenderung karena ketidakberhasilan Pemerintah Daerah Sumut dalam mengendalikan harga pangan masyarakat. Jadi masyarakat terkena pukulan ganda dari sisi daya belinya. Daya belinya anjlok karena pemasukan tidak mengalami kenaikan, ditambah dengan pengeluaran yang semakin besar."Kesimpulannya adalah, masyarakat Sumut saat ini tengah terbebani ekonominya. Bisa disimpulkan kondisi ekonomi masyarakatnya kian terpuruk. Hidupnya semakin susah," pungkasnya. (mtc/amel)