MATATELINGA, Medan : Meski teknologi pasar modal telah berkembang sejak awal tahun 2000, namun pertumbuhan pasar modal di Indonesia, khususnya Sumatera Utara (Sumut) belum menunjukkan peningkatan berarti. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen, investor di Medan hanya 0,7% di pasar modal nasional.[adx]"Padahal untuk kepentingan pemerintah dan dunia usaha, pasar modal jadi pengembangan investasi yang bagus. Hanya pengetahuan akan investasi di pasar modal ini yang belum tersebar," ucapnya dalam Media Gathering bersama Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen di Kantor OJK Regional V Sumatera Bagian Utara Jalan Gatot Subroto Medan, Kamis (12/9/2019).Pertumbuhan pengetahuan ini, ungkapnya, sangat dipengaruhi oleh media. Karenanya kegiatan sosialisasi terus dilakukan, direncanakan akan berlangsung di 9 daerah di Indonesia. "Dan kegiatan di Medan ini adalah kegiatan yang ketujuh," ungkapnya.Dijelaskan Hoesen, menambah modal atau menambah hutang adalah instrumen untuk pertumbuhan perusahaan. Namun karena pengetahuan yang belum bagus akan pasar modal, perusahaan hanya menambah modal dari hutang ke bank. "Bahkan hampir semua perusahaan yang sudah IPO (go public), hutangnya adalah hutang bank," terang dia.[adx]Padahal, lanjut dia, penerbitan obligasi sebenarnya lebih menguntungkan daripada hutang ke bank. Lantaran melalui obligasi pembayaran hutang bisa lebih ringan. "Biasanya hutang di bank, pembayaran cicilan langsung bunga dan pokok. Tapi dengan penerbitan obligasi, yang harus dibayar pada bulan - bulan awal hanya bunganya. Dan nanti diakhir baru pembayaran pokok, ini tentu meringankan pengusaha," jelas Hoesen.Untuk itu, workshop dan seminar dilaksanakan untuk membuka pengetahuan pengusaha di sumut, bahwa tidak hanya hutang dari bank untuk menambah modal. Namun juga bisa dari pasar modal.Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi menuturkan sebetulnya pasar modal di Indonesia sudah berjalan sejak zaman Belanda, namun setelah kemerdekaan mati suri. "Dan hidup kembali tahun 1977, dan kini sudah berjalan 42 tahun," ungkapnya.Sejak hidup kembali, sambungnya, pemerintah giat 'memaksa' perusahaan untuk go public. Diantaranya Semen Cibinong juga Unilever. [adx]Kata dia, pasar modal Indonesia mampu tumbuh signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah tumbuh mencapai 6.300 atau terus tumbuh sejak 1977.Hal ini diikuti dengan jumlah Perusahaan Tercatat yang meningkat, dari Semen Cibinong sebagai perusahaan tercatat pertama pada tahun 1977, sampai dengan 649 Perusahaan Tercatat di tahun 2019 dengan total nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 7.205 triliun.Selama 42 tahun terakhir, Pasar Modal Indonesia berhasil mencatatkan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) sebesar Rp 9,74 triliun dan terus meningkat sejak tahun 1977.[adx]Dari sisi Jumlah Perusahaan Tercatat, sampai dengan 2 Agustus 2019 telah terdapat 32 jumlah Perusahaan Tercatat baru, sehingga total Perusahaan Tercatat mencapai 649. Selain pencatatan efek saham juga terdapat 6 pencatatan efek ETF baru, 2 DIRE, dan 1 Dinfra. Sehingga total terdapat 41 pencatatan efek baru pada pertengahan tahun 2019. (mtc/amel)