MATATELINGA, New York: Perkembangan yang positif atas kesepakatan dagang AS-China memudarkan pesona emas sebagai safe-haven. Sebaliknya, aset-aset berisiko menjadi incaran para investor.[adx]Pada transaksi akhir pekan lalu, Jumat (8/11), harga emas dunia tampak tertekan. Bahkan harga emas sempat anjlok ke level terendahnya dalam tiga bulan terakhir.Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, harga emas spot ditutup dengan penurunan 0,65% menjadi US$ 1.459,00 per ons troi.Dengan demikian, harga emas sudah anjlok 3,2% di sepanjang pekan lalu. Ini merupakan penurunan pertama dalam empat pekan dan merupakan penurunan mingguan terdalam sepanjang lebih dari dua tahun terakhir."Kami melihat terjadinya reli di market yang berisiko tinggi. Dollar menguat dan pasar saham mencapai rekor tertingginya. Ada porsi emas penempatan posisi jangka panjang yang terbangun dalam beberapa bulan terakhir dan kami melihat hal itu mulai dilikuidasi," jelas Ryan McKay, analis komoditas di TD Securities kepada Reuters.[adx]Sementara itu, juru bicara Gedung Putih mengatakan, tarf dapat ditarik jika kesepakatan dagang AS-China bisa dicapai. Sayangnya, tidak ada penjelasan lebih detil mengenai hal ini."Kita melakukan trading dengan didasari banyak sekali spekulasi saat ini dan tidak ada bukti yang solid atau apapun yang spesifik," papar Craig Erlam, OANDA senior market analyst seperti yang dikutip Reuters.Perang dagang merupakan satu dari alasan utama, yang dipertimbangkan sebagai aset yang aman saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan politik. Sepanjang tahun ini, harga si kuning mentereng sudah melonjak hingga 14%.Di sisi lain, emas juga mendapatkan keuntungan dari kebijakan moneter yang dovish oleh bank sentral global. Namun, analis bilang, keputusan The Fed baru-baru ini untuk menahan suku bunga acuannya hingga ekonomi melambat, memberatkan langkah emas.