Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Kenapa Investor Asing Banyak Menarik Saham Sahamnya...?

Kenapa Investor Asing Banyak Menarik Saham Sahamnya...?

- Senin, 02 Desember 2019 08:30 WIB
Hand Over
MATATELINGA, Jakarta: Pada Jumat (29/11/2019) lalu, IHSG berhasil ditutup melesat 0,99% ke level 6.011,830. Namun, jika dihitung, IHSG telah terkoreksi 1,45% selama sepekan terakhir. Salah satu pemicunya adalah aksi jual saham oleh investor asing. Banyaknya sentimen yang mempengaruhi market menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatil. 

[adx]

Data RTI menunjukkan, nilai jual asing atawa net sell asing mencapai Rp 2,67 triliun di semua pasar selama sepekan. Nilai net sell oleh investor asing pada akhir pekan lalu mencapai Rp 219,82 miliar. Inilah yang menyebabkan IHSG tertekan.

Adapun sektor-sektor pada IHSG yang banyak dilepas asing meliputi saham perbankan, saham consumers good, saham telekomunikasi, hingga media.

Setidaknya terdapat 10 saham yang mencatatkan net sell tertinggi selama sepekan, yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan Saham PT Astra International Tbk (ASII)

Ada pula saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), hingga saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Apakah net sell asing akan terus berlanjut?

Analis menilai, ada banyak faktor yang mempengaruhi net sell asing pada IHSG. Yakni, faktor internal dan faktor eksternal. 

[adx]

Untuk faktor internal, Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menilai, aksi jual bersih ini akibat imbas pertumbuhan harga (price growth) secara year-to-date (ytd) yang mengakibatkan adanya penyeimbangan portofolio.

Penyeimbangan portofolio ini, kata Aria, dimaksudkan agar bobot emiten tersebut tidak mendominasi portofolio. Hal inilah yang menurutnya membuat saham-saham keuangan dan perbankan seperti BMRI, BBCA, BBNI, dan BBRI mengalami tekanan jual dalam sepekan ini.

Adapun faktor eksternal yang mendorong aksi jual asing pada IHSG adalah memanasnya kembali perang dagang antara China dan AS. Menurut Analis Panin Sekuritas William Hartanto,  aksi jual bersih utamanya terhadap saham blue chips tidak terlepas dari kekhawatiran resesi ekonomi akibat perang dagang antara dua negara besar dunia.

eperti yang diketahui, memanasnya tensi antara Beijing dengan Washington tidak terlepas dari dukungan AS atas pengunjuk rasa di Hong Kong dengan menandatangani Undang-Undang HAM Hongkong.

"Perang dagang memanas kembali sehingga investor asing mengamankan dana mereka," terang William kepada Kontan.co.id, Jumat (29/11).

Lantas, apakah pembubaran enam produk reksadana salah satu Manajer investasi (MI) ikut menjadi penyebab aksi penjualan asing pada IHSG? 

Menurut Aria, pembubaran reksadana terkait bukanlah penyebab hengkangnya dana asing dari IHSG. "Salah satu MI yang enam reksadananya dibubarkan bukan perusahaan asing, jadi lebih banyak investor domestik," ujar Aria saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (29/11).

Setali tiga uang, William menilai kasus pembubaran enam reksadana salah satu MI tidak terlalu berefek pada aksi jual bersih asing. Ia menilai, pengaruh sentimen eksternal lebih kuat dibandingkan dengan sentiment tersebut.

Dari beberapa saham yang dilepas asing pekan ini, William merekomendasikan beli saham TLKM, CPIN, BBCA, dan BBRI, dengan target jangka pendek masing-masing Rp 4.000 untuk TLKM, Rp 7.000 untuk CPIN, Rp 31.800 untuk BBCA, dan 4.300 untuk BBRI.

ementara Aria menaruh pilihan pada saham BBRI, TLKM, dan BBCA. Sebab, ia menilai fundamental ketiga emiten ini cukup solid dan terdapat potensi pertumbuhan kinerja hingga akhir 2019.

Aria pun merekomendasikan beli saham TLKM, BBRI, dan BBCA dengan target harga jangka pendek 5% - 8% dari harga penutupan saat ini.

Pada perdagangan Jumat (29/11), saham TLKM ditutup menguat 2,88% ke level Rp 3.930 per saham, saham BBRI ditutup menguat ke level Rp 4.090 per saham, dan saham BBCA ditutup menguat Rp 31.400 per saham.

Editor
:
Sumber
: ktn

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Tarif Impor Jadi 15%, Perang Dagang Memanas" Apa Penyebabnya

Ekonomi

Sukseskan Gerakan ASRI, Forkopimda Sibolga Gotong Royong Massal Bersama Warga

Ekonomi

Dihantam Banjir Bandang Jalan Desa Kampung Mudik-Aek Dakka Barus Sudah Dapat Dilalui

Ekonomi

"Alfi Hariadi Siregar" Diganjar Putusan Hukuman Sembilan Tahun Penjara

Ekonomi

PWI Labuhanbatu Akan Gelar Konferensi IX, Panitia Pelaksana Terbentuk

Ekonomi

Pemprov Sumut Genjot Pembangunan Infrastruktur Terpadu Lewat Program INSTANSI