MATATELINGA, Jakarta: Analis Monex Investindo Futures Andian Wijaya melihat penurunan signifikan yang terjadi pada rupiah disebabkan kekhawatiran pasar terhadap virus korona di Indonesia. Jumlah korban terinfeksi virus korona hingga Minggu (15/3/2020) yang mencapai 96 orang.Selain itu, kenaikan signifikan yang dialami dolar AS juga memukul rupiah. Sebab, pelaku pasar cenderung memilih untuk memegang dolar AS sebagai aset yang likuid dan minim risiko. “Langkah investor yang relatif mengamankan asetnya pada dollar AS membuat rupiah keteteran,” kata Andian.Rupiah kembali tak berkutik di hadapan dolar AS. Selama sepekan, rupiah terus mengalami penurunan. Berdasar pasar spot Jumat (13/3/2020), rupiah ditutup Rp 14.778 per dolar AS, melemah 1,52% dibanding hari sebelumnya. Kurs tengah Bank Indonesia juga mencatat rupiah tunduk di hadapan dollar. Rupiah ditutup melemah 2,19% di posisi Rp 14.815 per dolar AS.Di tempat lain, Ekonom Pefindo Fikri C. Permana menilai penyebaran jumlah korban virus korona yang terus meningkat membuat rupiah semakin jatuh. Sehingga menyebabkan pelaku pasar pasar melakukan panic-selling.Andian memprediksi pada hari Senin (16/3/2020) potensi rupiah untuk kembali melemah cukup lebar. Mengingat jumlah virus korona yang terus bertambah. Sementara, potensi rupiah untuk menguat masih akan tergantung pada hasil The Fed yang kemungkinan akan kembali memangkas suku bunga yang dijadwalkan Rabu (18/3).Andian menghitung rupiah akan bergerak di rentang Rp 14.900 " Rp 15.000 per dolar AS. Sementara, Fikri menghitung rupiah akan bergerak di rentang Rp 14.550 " Rp 15.050 per dolar AS.