MATATELINGA, Jakarta: Industri perbankan semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit, di tengah penyebaran wabah virus corona (Covid-19). Upaya ini menjadi langkah awal bagi perbankan untuk memitigasi risiko perlambatan ekonomi yang terdampak Covid-19.Agar dapat menjaga rasio non performing loan (NPL) tetap stabil, bank pun harus rela menyisihkan modal untuk tambahan pencadangan. Meski begitu, sebenarnya posisi pencadangan bank di Tanah Air masih cukup tebal, catatan OJK menunjukkan per Februari 2020 rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) ada di level 22,42%, meningkat dari bulan sebelumnya 22,82%.Namun, hal-hal tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi bank kecil di kelompok BUKU I dan II dengan modal inti di bawah Rp 5 triliun. Sebab, bank di kelas ini memang memiliki modal yang tidak sebesar bank menengah atau besar lainnya."Berdasarkan stress test yang telah kami lakukan, kami optimis CAR kami masih memadai untuk menyerap risiko yang timbul dengan adanya potensi peningkatan NPL," ujar Direktur Utama Bank Mantap Josephus K. Triprakoso kepada Kontan.co.id, Rabu kemarin (1/4/2020). Kabar baiknya, sebagian besar bank sudah lebih dulu memupuk permodalan cukup tebal sejak beberapa tahun terakhir pada level aman. Ambil contoh, PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) yang per Februari 2020 posisi CAR masih di level aman yakni 19,31%.Josephus juga menambahkan, sejalan dengan arahan presiden dan regulasi yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pihaknya juga telah berupaya menekan rasio NPL. Terutama pada debitur yang usahanya terkena dampak pandemi Covid-19. "Bank Mantap akan melakukan restrukturisasi sehingga debitur tersebut jangan sampai jatuh menjadi NPL," tuturnya.[br]Di samping itu, bila permodalan dirasa tidak cukup, sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) tahun 2020, Bank Mantap juga masih punya rencana penambahan modal melalui skema rights issue. Walau belum menentukan besaran dana yang bakal dicari, Josephus bilang aksi korporasi ini dipastikan bakal memperkuat permodalan Bank Mantap. "Kami proyeksikan bahwa rasio CAR di akhir tahun 2020 berada pada posisi 18%-19%," tegasnya.PT Bank Woori Saudara Tbk (BWS) yang mencatat per Februari 2020 posisi CAR masih terbilang aman di 19,11%. Akan tetapi, Direktur Kepatuhan BWS I Made Mudiastra menyatakan kalau adanya pembentukan cadangan tambahan bakal membuat CAR BWS turun sebanyak 1-2% hingga pengujung tahun 2020. "Itu baru proyeksi, belum tahu pastinya karena masih melihat pergerakan NPL," tuturnya.Dalam kondisi terburuk, BWS menyatakan rasio permodalan bisa saja turun sampai maksimal 3%. Hal ini disebabkan adanya potensi peningkatan NPL BWS sekitar 0,2%-0,4% di tahun ini. Selain itu, pada kuartal I 2020 lalu perseroan juga telah menambah pencadangan sekitar Rp 422 miliar untuk mendorong rasio pencadangan hingga sebesar 65%. "Maksimal NPL diusahakan tidak lebih dari 2% tahun ini," sambung Made.[br]Di sisi lain, secara singkat PT Bank BRI Agroniaga Tbk (BRI Agro) mengungkap CAR masih di atas 20%. Sekretaris Perusahaan BRI Agro Hirawan Nur menilai posisi tersebut sangat cukup untuk memitigasi segala risiko termasuk penurunan kualitas kredit. "Dengan kondisi seperti ini dan besaran CAR tersebut, kami perkirakan cukup aman untuk mengcover NPL," tuturnya.Lagipula, BRI Agro sebenarnya punya rencana untuk mencari tambahan modal dengan melepas 3 miliar saham baru atau 12,32% dari modal disetor, dengan target perolehan dana sebesar Rp 700 miliar. Aksi ini memang telah digaungkan sejak lama oleh BRI Agro, sebagai langkah untuk mencapai posisi BUKU III dengan modal inti di atas Rp 5 triliun.Namun, langkah tersebut terpaksa diundur yang disebabkan oleh belum stabilnya kondisi pasar. Selain menjaga kualitas kredit, BRI Agro juga telah mengerem proyeksi kredit yang sebelumnya 20% menjadi 9% saja tahun ini.Setali tiga uang, PT Bank Sahabat Sampoerna (BSS) juga menyebut CAR ada di posisi 19%-20%. Direktur Keuangan BSS Henky Suryaputra memandang posisi ini sebenarnya lebih dari cukup untuk menahan NPL. "Tapi dengan keadaan sekarang, memang ada potensi NPL untuk naik," terangnya.Dus, Bank Sahabat Sampoerna kini tengah menganalisa kondisi debitur untuk dapat menghitung besaran dampak yang ditumbulkan Covid-19 terhadap usaha debitur.