Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Orang Miskin makin Miskin dan Orang Kaya Makin kaya

Orang Miskin makin Miskin dan Orang Kaya Makin kaya

Admin - Sabtu, 19 April 2014 15:56 WIB
Matatelinga - Jakarta, keuntungan investasi secara jangka panjang selalu lebih besar ketimbang pendapatan yang didapat karyawan. Struktur masyarakat selalu cenderung ke arah ketidaksetaraan. Bahkan, selisihnya sangat besar. Akibatnya, orang yang memiliki modal untuk investasi, yang biasanya adalah orang kaya, akan bertambah kekayaannya. Pepatah lama tampaknya sangat sesuai untuk menggambarkan hal ini, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.Demikian disampaikan oleh ekonom dan penulis asal Prancis, Thomas Piketty mengutip laman CNBC, Jakarta, Sabtu (19/4/2014). Dia adalah penulis buku best seller, "Capital in The 21st Century". Buku berisi 696 halaman ini memuat sejarah ekonomi Dunia.Dia membuat penelitian tentang kesenjangan ekonomi dari data 100 tahun ke belakang. Dia berpendapat, semakin tingginya kesenjangan sosial di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir ini, menurutnya bukanlah suatu yang luar biasa dalam perspektif sejarah.Namun, kembali ke sejarah, sesuatu yang luar biasa adalah periode antara pertengahan 1930-an dan awal 1970-an.  Menurutnya, tahun tersebut ketika ketimpangan ekonomi anjlok dan tetap pada tingkat historis rendah selama beberapa dekade.Dalam sebuah forum, Piketty ditanya mengenai kenaikan berkelanjutan mengenai ketidaksetaraan bagi masyarakat, dan beberapa dari jawabannya memancing tema perdebatan di Washington.Kekhawatiran terbesar, lanjutnya, dimana ada peningkatan konsentrasi kekayaan yang mengarah ke korupsi dari sistem politik. "Ketika sebagian kecil warga memegang pangsa yang sangat besar dari kekayaan suatu negara, lembaga-lembaga politik tertangkap," ujarnya.Sebagai contoh, dirinya menggunakan pra-perang dunia I di Eropa, di mana 10 persen dari penerima hasil investasi membawa pulang hampir separuh pendapatan nasional, dan pemerintah beroperasi dengan kepentingan orang-orang berduit.Dia juga mencatat bahwa tingkat ketimpangan pendapatan di AS sekarang lebih besar daripada di saat praperang Eropa.(Okz/Mt-01)


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Bobby Nasution Dorong Bank Sumut dan Tirtanadi Naik Kelas ke Bursa Efek

Ekonomi

Penguatan IHSG diiringi oleh lonjakan signifikan pada volume transaksi

Ekonomi

Penyedia indeks global MSCI Inc mengumumkan MSCI Equity Indexes August 2026

Ekonomi

Kenapa Masyarakat Tunda Beli Rumah dan Mobil

Ekonomi

Warga Bandar Pulau Bekuk Pengedar Sabu

Ekonomi

RUPS 2025: Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara