MATATELINGA, Medan : Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi menjelaskan pada Mei 2020, seluruh kota IHK (Indeks Harga Konsumen) di Sumatera Utara inflasi, yaitu Sibolga sebesar 0,17%, Pematangsiantar sebesar 0,37%, Medan sebesar 0,42% Padangsidimpuan sebesar 0,76% dan Gunung Sitoli sebesar 0,37%. "Dengan demikian, gabungan 5 kota IHK di Sumatera Utara pada Mei 2020 inflasi 0,43%. Dan inflasi tahunan sebesar 0,68%," ujarnya dalam paparan Perkembangan Ekonomi Sumut melalui channel YouTube, Selasa (2/6/2020).Untuk kota Medan, sambungnya, pada Mei 2020, Medan tercatat inflasi 0,42% atau terjadi peningkatan IHK dari 102,60 pada April 2020 menjadi 103,03 pada Mei 2020. Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,77%, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,12%, kelompok kesehatan sebesar 0,39% kelompok transportasi sebesar 1,58% dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,15%. Sementara kelompok lainnya tidak mengalami perubahan indeks."Komoditas utama penyumbang inflasi selama Mei 2020 di Medan, antara lain angkutan udara, bawang merah, daging ayam ras, tomat, ikan dencis, sawi hijau, dan wortel," tutur dia.Dituturkan Syech Suhaimi, dari 24 kota IHK di Pulau Sumatera, 22 kota tercatat inflasi. Inflasi tertinggi di Tanjung Pandan sebesar 1,20% dengan IHK sebesar 104,57 dan terendah di Tanjung Pinang sebesar 0,01% dengan IHK sebesar 102,62.[br]Sementara ekonom Sumut, Gunawan Benjamin menjelaskan inflasi tahunan sebesar 0,68%, biasanya bisa direalisasikan hanya dalam satu bulan, khususnya saat lebaran dan Idul Fitri. Kalau di tahun sebelumnya kita semua memerangi inflasi yang tinggi, namun saat ini kita tengah berupaya bagaimana supaya inflasi ini bisa bergerak ideal.Daya beli memang masih menjadi masalah mendasar masyarakat Sumut. Sulit berharap daya beli bisa pulih dalam waktu dekat. Bantuan masih menjadi jalan agar masyarakat bisa mendapatkan daya belinya. Mungkin para ibu rumah tangga senang dengan tren penurunan harga pangan tersebut. "Namun saya pastikan bahwa, saat ini para ibu rumah tangga juga kesulitan, bahan pokok murah sekalipun mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya," tuturnya.Inilah, jelas dia, masalah di ekonomi saat pandemic seperti sekarang ini. Jadi pada dasarnya kalau harga kebutuhan pangan naik, namun pendapatan juga naik, masalah ekonomi yang ditimbulkan itu tidaklah buruk. Tetapi kalau barang murah, tetapi uang tidak ada, masalah ini justru lebih serius dibandingkan kenaikan harga tadi.Yang kita hadapi sekarang adalah, harga barang murah tetapi pendapatan berkurang atau bahkan tidak ada pendapatan sama sekali. Ini tantangan berat, sama halnya seperti harga pangan naik, tetapi pendapatan tetap atau bahkan turun."Tidak mudah berhadapan dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini. Umumnya yang diinginkan manusia adalah pendapatan naik, tetapi harga pangan turun. Namun kondisi seperti itu mustahil bisa didapatkan. Itu hanya angan-angan, jangan sesekali terlintas di benak kita. Karena bertentangan dengan sifat dasar manusia yakni dimana disaat pendapatan naik, tren konsumsinya juga naik," terangnya.Tren inflasi Sumut yang terbilang sangat rendah di kuartal kedua ini, jelas dia, menyisahkan masalah serius. Meskipun peluang kita selamat dari resesi tetap terbuka. Kita masih lebih beruntung dibandingkan dengan negara tetangga kita sendiri seperti Malaysia atau Singapura, yang tinggal menunggu detik detik jatuh ke jurang resesi."Untuk itu, saya menyarankan sekalipun harga pangan turun masyarakat harus berhemat. Bahkan harus lebih ketat berhematnya. Gunakan uang seperlunya sesuai kebutuhan. Apalagi kalau uang itu adalah bantuan dari pemerintah. New normal di bulan ini bisa saja memberikan harapan pemulihan, tetapi jangan bergantung 100%," ungkapnya.Karena, terangnya, apapun bisa terjadi diluar ekspektasi kita. Kita tentunya berharap yang terbaik yang akan diberikan oleh Tuhan. Tetapi kita juga harus mewaspadai kemungkinan terburuk. Ditengah pandemi ini ada dua pembunuh yang hadir ditengah tengah kita. Yakni virus corona itu sendiri, dan satu lagi kita bisa mati karena kelaparan. (mtc/amel)