Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Apa Tujuan China dan Rusia Bentuk Poros Baru...?

Apa Tujuan China dan Rusia Bentuk Poros Baru...?

Redaksi - Sabtu, 06 Februari 2021 06:30 WIB
Hand Over
MATATELINGA, Brussel: China dan Rusia telah membentuk poros kekuatan (axis of power) baru dengan agenda untuk membentuk tatanan internasional baru, hal tersebut diingatkan Jenderal tertinggi NATO , Tod Wolters.

Jenderal Wolters, Panglima Tertinggi Sekutu Eropa atau SACEUR, telah mengatakan kepada wartawan bahwa kerjasama dua kekuatan dunia yang berkembang itu "benar-benar menunjukkan kemunculan kemitraan kenyamanan".

Ini adalah kemitraan yang berpotensi menjangkau dunia, dari Timur Tengah hingga Pasifik Barat dan utara Arktik.

“Kami sangat waspada sehubungan dengan kerjasama yang berkembang itu,” kata Wolters. "Kerjasama seperti itu memajukan kepentingan bersama, dan kemajuan itu bisa merugikan Eropa dan negara-negara terkait dan sekitarnya."

NATO menuduh Rusia melanggar perjanjian internasional melalui pengembangan senjata nuklir baru. Aliansi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) itu juga menyalahkan serangan dunia maya yang bersumber dari Rusia dan kampanye disinformasi yang membuat Barat tidak stabil.

China juga berada di bawah pengawasan yang meningkat atas penindasannya terhadap orang-orang Uighur dan Tibet serta klaim teritorialnya yang agresif dan diplomasi "perangkap utang".

"Dalam menghadapi peningkatan aktivitas agresif di dataran tinggi utara dari Rusia, yang merupakan negara Arktik, dan China, yang mengeklaim sebagai negara dekat Arktik, kita harus menjaga keseimbangan kekuatan yang menguntungkan di wilayah ini untuk diri kita sendiri dan untuk sekutu kita," kata Sekretaris Angkatan Laut AS Kenneth Braithwaite saat menyamapaikan peringatannya bulan lalu.

Poros Muncul

Hal-hal tidak selalu begitu ramah di antara kedua kekuatan tersebut.

Rusia dan China berbagi perbatasan 4200 km. Sebagian besar provinsi timur Moskow yang kaya mineral diklaim oleh Beijing sebagai bagian dari domain sejarahnya"termasuk kota Vladivostok.

[br]

Untuk saat ini, Presiden Vladimir Putin dan Ketua Xi Jinping telah mengesampingkan sumber ketidaksepakatan itu.

Rusia dan China mulai memperkuat hubungan diplomatik, ekonomi dan militer mereka setelah negara-negara Barat menjatuhkan sanksi terhadap Moskow pada 2014. Rusia baru saja menginvasi Semenanjung Crimea dan meluncurkan operasi tempur rahasia di timur Ukraina.

Pada tahun 2018, kedua kekuatan itu mengerahkan ratusan ribu pasukan dan pesawat serta kapal perang menuju latihan militer gabungan terbesar mereka.

Pada 2019, Putin dan Xi berjabat tangan atas proyek pipa gas penting yang menghubungkan Siberia ke timur laut China.

Pada tahun 2020, kapal perang dan jet tempur Rusia bergabung dengan latihan militer China di Pasifik barat. Mereka juga mulai bekerja sama di Kutub Utara.

"Tanpa kehadiran dan kemitraan Angkatan Laut Amerika yang berkelanjutan di kawasan Arktik, perdamaian dan kemakmuran akan semakin ditantang oleh Rusia dan China, yang kepentingan dan nilainya berbeda secara dramatis dari kita," bunyi laporan Angkatan Laut AS baru-baru ini.

Sekitar 90 persen perdagangan dilakukan melalui laut. Es Arktik yang menyusut dapat secara dramatis mempersingkat rute pengiriman ke dan dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

“Jika dibiarkan, keuntungan tambahan dari peningkatan agresi dan aktivitas jahat dapat menghasilkan fait achievement, dengan keuntungan strategis jangka panjang bagi para pesaing kita,” imbuh laporan Blue Arctic: A Strategic Blueprint.

[br]

Skenario Kasus Terburuk

Fellow senior Hudson Institute Center for Defence Concepts, Bryan Clark, mengatakan Barat perlu mempertimbangkan kembali bagaimana bersaing dengan aliansi Rusia-China. Dia memperingatkan bahwa aliansi itu jauh melampaui kerjasama kapal perang dan pesawat tempur.

“Kecuali (Pentagon) mulai memikirkan kembali skenario dan menyeimbangkan kembali pasukannya, keberhasilan zona abu-abu China dan Rusia baru-baru ini di Laut China Timur dan Selatan atau Crimea dapat menjadi norma dan militer AS dapat menemukan dirinya kalah dalam pertempuran beberapa inci melawan pesaing yang sabar yang bersedia memainkan permainan panjang," paparnya, seperti dikutip news.com.au, Sabtu (6/2/2021).

Clark mengatakan Barat percaya skenario terburuk termasuk invasi ke Taiwan. "Blokade berkepanjangan pulau barat daya Jepang atau ancaman kapal selam berkelanjutan di lepas pantai AS," ujarnya.

Tetapi Clark mengatakan Moskow dan Beijing sangat menyadari hal ini dan telah menyesuaikan rencana mereka. "Keduanya secara metodis mengembangkan strategi dan sistem yang menghindari keuntungan militer AS dan mengeksploitasi kerentanannya dengan menghindari jenis situasi yang telah disiapkan pasukan AS," imbuh dia.

Mereka telah mengalihkan medan perang utama mereka dari laut dan langit ke domain digital dan propaganda.

Editor
:
Sumber
: sindo

Tag:

Berita Terkait

Internasional

Sukseskan Gerakan ASRI, Forkopimda Sibolga Gotong Royong Massal Bersama Warga

Internasional

Dihantam Banjir Bandang Jalan Desa Kampung Mudik-Aek Dakka Barus Sudah Dapat Dilalui

Internasional

PWI Labuhanbatu Akan Gelar Konferensi IX, Panitia Pelaksana Terbentuk

Internasional

Pemprov Sumut Genjot Pembangunan Infrastruktur Terpadu Lewat Program INSTANSI

Internasional

Polwan Polda Sumut Laksanakan Pengamanan Aksi Unjuk Rasa di Kantor Gubernur Sumut, Dengan Humanis

Internasional

Bakamla RI Siap Dorong Ekonomi Maritim Indonesia